Warga Sodong Desak PT SWA Hengkang

Warga berharap PT Sumber Wangi Alam (SWA) hengkang dari Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel). Alasannya, perusahaan perkebunan sawit ini selalu menimbulkan masalah dengan warga setempat. “Sejak adanya PT SWA dan pamswakarsanya, selalu terjadi masalah dengan warga kami,” kata Ahmad, 34, salah seorang warga Sungai Sodong, yang ditemui Jumat ,(15/12).

Warga berharap PT Sumber Wangi Alam (SWA) hengkang dari Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel). Alasannya, perusahaan perkebunan sawit ini selalu menimbulkan masalah dengan warga setempat. “Sejak adanya PT SWA dan pamswakarsanya, selalu terjadi masalah dengan warga kami,” kata Ahmad, 34, salah seorang warga Sungai Sodong, yang ditemui Jumat ,(15/12).

Menurut dia, kejadian tahun-tahun sebelumnya, ternyata baru terungkap dan ketahuan sekarang ini,. Padahal, perusahaan perkebunan sawit ini, selalu menimbulkan masalah dan konflik dengan warga desa.

Kehadiran PT SWA ini menjadi pusat perhatian warga sekitar. Menurut Unggul, 36, salah seorang anggota KUD Terantang Jaya, kerja sama yang dilakukan PT Treekreasi Margamulya (sekarang PT SWA) dengan plasma sejak tahun 1997, setelah kebun sawit plasma berjalan, berakhir tidak jelas kesepakatannya.

“Masyarakat sudah menyerahkan 534 surat keterangan tanah dengan luas 1.068 hektare, namun dalam perjalanannya yang diakui hanya 298 SKT. Ini sudah melanggar kesepakatan,” tegasnya.

Ia mengungkapkan pada 2002, dengan dalih sudah mendapatkan persetujuan dari tokoh masyarakat Sungai Sodong, secara sepihak PT SWA membatalkan SKT plasma dan akan mendapat ganti rugi. “Perusahaan nilai lahan warga tidak produktif,” ujarnya.

Kepala Desa Sungai Sodong, Maonah Prima Yudha. Menurut dia, lahan SKT yang sudah masuk dalam kerja sama tersebut malah belum ada yang ditanami, namun kerjasama terus berjalan tanpa ada kompensasinya. “Memang sengketa lahan warga dengan pihak PT SWA masih belum tuntas hingga sekarang,” ujarnya.

Maonah mengungkapkan kepedulian PT SWA dengan desa ini belum terbukti. Ia mencontohkan dirinya yang memperbaiki akses jalan masuk ke desanya. Sedangkan perusahaan sama sekali tidak ada andilnya untuk memperbaiki jalan desa Sodong. “Jalan menuju perusahaan diperbaiki, tapi jalan desa dibiarkan rusak,” jelasnya.

Mukhlis Sinata alias Acad, tokoh masyarakat Desa Sungai Sodong, menambahkan kehadiran pamswakarsa milik PT SWA menambah ruwetnya permasalahan yang dihadapi warga. Anggota pamswakarsa ini selalu bertindak anarkis kepada warga, hingga terjadi percekcokan dengan warga, hingga adanya korban meninggal dari warga.

“Kita tahu sendiri mereka diambil dari preman yang tidak punya kerja. Di lapangan sudah pasti mereka sekehendaknya bertindak dengan warga tanpa melihat masalahnya,” ujarnya.

Ia menyebutkan pihak perusahaan perkebunan sawit PT SWA ini mengambil anggota pamswakarsa dari lembaga yang bernama Wirasandi berkedudukan di Palembang. Menurut dia, lembaga tersebut legal, namun anggota pamswakarsa ini selalu bertindak tidak manusiawi di lapangan.