Tak Ingin Durhaka, Prabu Lepas Demokrat

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo secara resmi menyerahkan surat pengunduran diri dari Ketua DPD DIY, sekaligus keanggotaan Partai Demokrat. Ia mendatangi kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Demokrat Daerah Istimewa Jogjakarta (DIY), dan menyerahkan kartu anggota kepada pengurus lain.

“Saya tidak mau menjadi anak durhaka. Sejarah keistimewaan Yogyakarta ini sudah ada sejak zaman ayah saya (Sri Sultan Hamengku Buwono IX),” ujar adik Sultan Hamengku Bowono X, yang akrab disapa Prabu itu, usai bertemu pengurus Partai Demokrat, di Jalan Kolonel Sugiyono 89, Mergangsan, Yogya.

Prabukusumo tiba mengendarai mobil Isuzu Panther hitam bernomor polisi AB 7263 N. Begitu menjejakkan kaki di kantor partai yang didirikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, ia menemui sejumlah pengurus Demokrat DY.

Dalam balutan batik, Prabu bergegas menghampiri beberapa sesepuh Partai Demokrat DIY. Kepada mereka, ia menyerahkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat yang dipegangnya sejak 2005.

Para sesepuh yang hadir, antara lain Penasihat DPD Demokrat DIY, Harsodiningrat, Ketua Majelis Pertimbangan Daerah, Sukardi, dan anggota Majelis Pertimbangan Partai, Djoko Suwindi.

Ikut mengundurkan diri, dua pengurus DPD Partai Demokrat, Faraz Umaya, Wakil Ketua Bidang IX Sosial dan Bencana dan R Lulu D Budiharjo, Sekretarisnya. “Saya murni mengundurkan diri, bukan atas ajakan Prabukusumo. Saya sudah tidak sependapat dengan partai.”

Kepada pers, Prabu mengaku kecewa. Soalnya, partai yang dibelanya sejak 2005 itu, menjadi penyokong utama upaya memangkas kekuasaan Sultan di Yogya. “Ini murni bentuk keprihatinan saya pada Demokrat yang tidak melihat Yogya melalui hati nurani.”

Selama ini, Prabu termasuk sangat serius mengembangkan Partai Demokrat di wilayahnya. Ia sampai berseberangan dengan kakaknya, Sri Sultan HB X, yang menjadi Ketua DPD Partai Golkar DIY. Sebagai pemimpin partai, ia fokus mengembangkan partai. Ia tidak ikut-ikutan mencalonkan diri di parlemen.