Setitik Kebenaran, Awal Kebohongan Besar

Ketika para penggiat anti tembakau masih sibuk mengkampanyekan bahaya-bahaya tembakau dan ngotot menekan pemerintah untuk untuk membuat regulasi pengontrolan yang ketat atas tembakau, korporasi-korporasi internasional yang mendapat keuntungan bisnis dari agenda ini sibuk menghitung peluang-peluang meraup keuntungan dari bisnis nikotin ini.

Ini dapat kita baca dalam Laporan setebal 123 halaman bertajuk World Smoking-Cessation Drug Market 2010-2025 yang diterbitkan pada tanggal 13 Januari 2010. Dalam laporan tersebut diungkapkan bahwa pada tahun 2008, total penjualan produk-produk NRT ini di seluruh dunia di atas 3 milyar dolar Amerika. Selama 15 tahun ke depan, pertumbuhan menyeluruh dari pemasaran produk-produk NRT ini akan meningkat yang dikontribusi oleh kelompok negara BRIG (Brazil, Rusia, India, dan China). Sebab, menurut laporan ini, hampir separuh dari perokok dunia tinggal di wilayah BRIC, tetapi kelompok negara ini masih termasuk berpendapatan perkapita rendah. Dalam laporan ini juga dianalisis perkembangan market produk-produk ini di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.

Pada saat yang bersamaan, dikembangkan berbagai jenis produk NRT untuk merebut peluang pasar global produk ini. Pemerintah Amerika Serikat, contohnya, mendukung pengembangan vaksin nikotin - nicotine vaccines (Reuters, 20/10/2009).

Di sisi lain, penggunaan obat-obatan ini bukanlah tanpa risiko. Di Washington, Amerika Serikat, contohnya, seperti diberitakan oleh The New York Times (1/7/2009), otoritas Food and Drugs Administration (PDA) memberikan peringatan untuk hati-hati dan mewaspadai terhadap apa yang disebut sebagai tanda-tanda penyakit mental yang serius (signs of serious mental illness) yang menyebabkan tindakan bunuh diri di antara para pemakai obat-obat ini (New York Times).

Dalam berita tersebut nampak sikap pihak otoritas PDA yang menjaga agar peringatan tersebut tidak menyebabkan turunnya penjualan produk-produk tersebut dengan menekankan bahwa ketakutan tidak boleh menghentikan para pasien (perokok) memakai obat-obatan yang membebaskan orang dari merokok, seperti Chantix yang diproduksi oleh Pfizer dan Zyban yang diproduksi oleh GlaxoSmithKline yang juga menjual di bawah nama brand Wellbutrin.

Seperti dikutip The New York Times, Direktur PDA Dr. Curtis J. Rosenbraugh mengungkapkan: shopping smoking is a goal we should all be working towards - berhenti merokok itu merupakan suatu tujuan yang harus bersama kita capai. "Kami tidak ingin menakuti-nakuti orang untuk berhenti dari mencoba menggunakan obat-obatan itu yang dapat membantu mereka mencapai tujuan tersebut. Anda hanya harus hati-hati."

Kasus ini membuat Pfizer menambahkan peringatan yang disebut "black box warning" pada bungkusan produk obat Chantix. Hal yang sama dilakukan juga oleh Glaxo untuk produk Zyban. Kedua perusahaan ini dituntut untuk melakukan percobaan klinik (clinical trials) untuk menilai risiko-risiko kesehatan mental (mental health) yang berhubungan dengan penggunaan obat-obat ini.

Kasus yang terjadi di Amerika Serikat ini setidaknya memberikan kita gambaran adanya risiko penggunaan obat-obat NRT. Risiko seperti ini tentu saja tidak diekspose, seperti halnya risiko tembakau, sebagaimana sering dikampanyekan oleh para penggiat anti tembakau.

Menyinggung soal risiko bahaya tembakau yang sering dikampanyekan para penggiat anti tembakau, khususnya mengenai angka kematian akibat tembakau, mendapat kritikan keras dari orang-orang yang kritis terhadap agenda anti tembakau. Di antaranya Robert A. Levy dan Rosalind B. Marimont.

Robert A. Levy adalah Ketua Dewan Direksi Cato Institute, "a senior fellow" dalam studi-studi konstitusional, anggota dewan Institute for Justice, Federalist Society, dan George Mason University School of Law. Dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2004, Levy adalah seorang "adjunt professor of law" di Georgetown University. Sedangkan Rosalind B. Marimont adalah ilmuwan dan pakar matematika yang selama 37 tahun telah menjalankan karier di National Institute of Standards and Technology di Amerika.

Dalam artikel yang mereka tulis bertajuk Lies, Damned Lies & 400.000 Smoking-Relating Deaths (Regulation, Vol. 21 No. 4, 1998), Levy dan Marimont mengungkapkan bahwa kebenaran adalah korban pertama dalam perang melawan tembakau. Pernyataan 400.000 kematian prematur setiap tahun di Amerika akibat merokok merupakan kebohongan besar. Hal ini hanya merupakan mantra untuk menjustifikasi semua tindakan regulasi dan legislasi tembakau.

Menurut Levy dan Marimont angka kematian ini merupakan estimasi yang di-generated oleh suatu program komputer yang disebut SAMMEC (Smoking Associated Mortality, Morbidity and Economic Costs), didasarkan pada model yang salah, mengabaikan semua aturan mengenai epidemiology, secara cepat menyimpulkan efek rokok terhadap kematian.

Levi dan Marimont memberikan contoh, sebagai berikut: jika Joe Smith yang gemuk, punya kolesterol yang tinggi, diabetes, punya sejarah penyakit jantung dalam keluarga, tidak pernah olah raga, dan.... merokok, meninggal karena serangan jantung, maka dengan menggunakan program SAMMEC itu, faktor rokok muncul sebagai faktor penyebab kematian Joe Smith. CDC (Centers for Disease Control and Prevention, AS) akan menyatakan kematian Joe Smith itu akibat rokok. Faktor-faktor risiko lain diabaikan.

Levy dan Marimont mengungkap pula bahwa perang terhadap rokok dimulai dari setitik kebenaran bahwa rokok itu memiliki suatu faktor risiko kanker paru-paru. Setitik kebenaran ini kemudian dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu monster kebohongan dan ketamakan, serta mengikis kredibilitas pemerintah dan men-subversi rule of law. llmu sampah (junk science) menggantikan ilmu pengetahuan yang jujur (honest science). Propaganda diparadekan sebagai fakta.

Hal senada diungkapkan pula oleh Judith Hatton, co-author buku Murder a Cigarette. Pernyataan WHO tentang bahaya merokok tidak lain daripada propaganda yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Data, angka, statistik, estimasi, tidak lebih dari Lies, Damned Lies.

Untuk membuktikan propaganda anti merokok yang juga menurut Lauren A. Colby, litigation lawyer dari Maryland, tidak berdasarkan kebenaran, tidak bertanggung jawab dan liar. Colby menulis buku In Defense of Smokers (2003) Pada Kata Pengantarnya Colby menyatakan: Wrote this book to refuse the wild, irresponsible and untruthful anti-smoking propaganda which obscures the truth - saya menulis buku ini untuk menyangkal propaganda anti merokok yang liar, tidak bertanggung jawab, dan tidak benar yang mengaburkan kebenaran.

Kebenaran apa yang dikorbankan? Levy, Marimont, Hatton, Colby, dan orang-orang yang kritis dengan propaganda anti merokok ini mengungkapkan bahwa tembakau bukan penyebab utama dan bukan satu-satunya risiko segala macam penyakit yang disebutkan WHO. Merekapun menunjukkan beberapa hasil penelitian dan kajian ilmiah, di antaranya seperti yang dimuat dalam British Journal of Cancer (2002) yang membuktikan tidak adanya hubungan antara merokok dengan risiko kanker payudara. Hasil studi lain yang dikenal dengan sebutan Roll Royce of Studies, menjelaskan tidak adanya hubungan antara merokok dengan sakit jantung (Journal of Critical Epidemiology 42, no.8, 1989).

(Bagian dari Epilog Nicotin War, Wanda Hamilton, INSISTPress 2010 oleh Gabriel Mahal,S,H, Advokat dan Pengamat Prakarsa Bebas Tembakau di Jakarta)