Riset Lanjutan Gunung Padang Gunakan Teknologi LIDAR

Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) akan menyempurnakan hasil riset Gunung Padang, dengan menggunakan teknologi Light Detection and Ranging (Lidar), sebuah teknologi sensor jarak jauh memiliki kegunaan bukan hanya pada objek arkeologi, tapi juga dalam bidang geomatika, geografi, geologi, geomorfologi, seismologi dan fisik atmosfer. Riset lanjutan itu akan dilakukan mulai pekan depan.

Demikian disampaikan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief yang juga inisiator TTRM kepada politikindonesia.com, Rabu (03/09) malam.

“Alhamdulillah, baru dapat kabar Photo Udara teknologi Lidar pekan depan akan dilaksanakan. Betul-betul membahagiakan karena teknologi ini merupakan sumbangan dari 2 ahli yang bekerja di perusahaan yang biasa melakukan pemotretan Lidar. Saya yakin, ini gotong royong dalam skala kecil yang harus kita pertahankan dan perluas,” ujar Andi.

Teknologi Lidar juga dapat membantu untuk membuat model elevasi digital (DEM) resolusi tinggi dari situs-situs arkeologi, yang dapat mengungkapkan mikro-topografi yang tersembunyi oleh vegetasi. Lidar dapat menggambarkan Fitur yang tidak bisa dibedakan di lapangan atau melalui foto udara diidentifikasi dengan overlay hillshades dari DEM dibuat dengan pencahayaan dari berbagai sudut. "Dengan Lidar, kemampuan untuk menghasilkan resolusi tinggi dataset lebih cepat," ujar dia.

Sekedar informasi, situs prasejarah Gunung Padang mulai ramai di media dan dibicarakan publik setelah Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang diinisiasi oleh Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, menemukan bangunan yang tertimbun di bawah situs megalitik tersebut.

Dari uji penanggalan jejak karbon yang dilakukan Laboratorium Batan, pada material paleosoil di kedalaman empat meter menunjukkan usia 5500 tahun Sebelum Masehi (SM). Sementara hasil dari Laboratorium Beta Miami, Florida, Amerika Serikat (AS), material dari kedalaman empat hingga 10 meter berusia 7600–7800 SM.

Situs ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dengan luasan 29 hektar. Luas ini, 10 kali lipat luas candi Borobudur. Para peneliti percaya, bangunan prasejarah disitus ini akan menjadi big bang sejarah, dan mengubah cara pandang selama ini terhadap sejarah peradaban manusia.