Profesor Palestina Tewas Ditembak di Jalanan Kuala Lumpur

Fadi Mohammad al-Batsh (35), seorang profesor asal Palestina yang mengajar di Malaysia, tewas ditembak di jalanan Kuala Lumpur, pada Sabtu (21/04) pagi. Wakil PM Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi menyebut, intelijen asing berada dibalik serangan ini.

Seperti dilansir dari Bernama, Minggu (22/04), Fadi sedang berjalan kaki menuju masjid dari tempat tinggalnya sekitar pukul 06.00 WIB waktu setempat, ketika dihadang dua orang pelaku yang menggunakan sepeda motor bertenaga besar.

Pelaku melepaskan 10 tembakan dimana 4 diantaranya mengenai Batsh dan membuatnya tewas seketika. "Investigasi awal menemukan empat luka tembak di tubuh korban. Dua peluru ditemukan di tempat kejadian," kata Kepala Polisi Kuala Lumpur, Mazlan Lazim.

Media lokal Malaysia menyebut, Batsh merupakan seorang profesor teknik listrik yang mendapat gelar doktor atau PhD di Universiti Malaya. Ia kemudian menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Malaysia. Batsh diketahui sudah 10 tahun tinggal di Malaysia ini, disebut aktif dalam sebuah LSM Islam yang memperjuangkan isu Palestina.

Wakil Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi mengatakan, ada keyakinan kedua pelaku terkait organisasi intelijen dari sebuah negara, tanpa menyebut negara yang dimaksud.

Zahid menyatakan otoritas Malaysia bekerja sama dengan Interpol dan Aseanapol, kepolisian kawasan ASEAN, dalam memburu kedua pelaku.

“Polisi akan melakukan penyelidikan yang melingkupi seluruh sudut pandang. Kami akan memberikan informasi soal perkembangan kasus ini dari waktu ke waktu," ujar dia.

Ahmad Zahid mengatakan, kedua pelaku terlihat seperti Kaukasia. Kaukasia merupakan sebutan untuk orang keturunan Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan dan India Utara.

Secara terpisah, seperti dilansir Reuters, Duta Besar Palestina untuk Malaysia, Anwar Al-Agha, menyatakan sejumlah saksi mata di lokasi juga menyebut kedua pelaku terlihat seperti orang Eropa.

Hamas dalam pernyataan terpisah, mengklaim Batsh sebagai anggotanya. Sedangkan pihak keluarga yang ada di Gaza menuding badan intelijen Israel, Mossad, mendalangi pembunuhan tersebut.