Politisi PKB Bicara Skenario Poros Ketiga Usung Gatot

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Lukman Edy bicara tentang kemungkinan skenario munculnya poros ketiga dalam Pilppres 2019. Poros itu bisa muncul jika Partai Demokrat mengusung Jendral Gatot Nurmantyo.

Skenario itu disampaikan Lukman Edy dalam diskusi "Menakar Peluang Jokowi Dua Periode" di Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (30/03).

"Warning kepada Jokowi yakni munculnya poros baru, kalau misalnya Jokowi tetap menggandeng nasionalis sekuler sebagai wakilnya, kemudian Pak Prabowo menggandeng wakil yang salah, kemudian Demokrat mengusung Gatot dan menggandeng wakilnya nasionalis religius," ujar dia.

Lukman menilai, peluang Gatot diusung Demokrat terbuka, karena Gatot merupakan mantan ajudan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi Presiden. Keduanya memiliki komunikasi yang baik.

Lukman mengatakan, dengan mengusung Gatot, maka SBY tidak akan mengusung putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). "Kenapa Gatot? Sebenarnya sederhana, Gatot mantan ajudannya SBY, komunikasi bagus. Tentu Pak SBY harus puasa dulu 5 tahun kepada putranya dorong Pak Gatot sebagai capres," kata Lukman.

Lukman menilai, sosok AHY belum dapat diusungkan sebagai Capres. Hal ini dikarenakan AHY dinilai belum memenuhi kriteria sebagai presiden.

"Kenapa bukan AHY meski elektabilitasnya tinggi? Pertama Pak AHY belum dewasa, dia harus latihan dulu sebagai negarawan, calon presiden harus negarawan. Kedua logistiknya masih logistik bapak, masih dari kantong bapak. Ketiga jejaring juga jejaring bapak, tidak bisa, harus jejaring sendiri sehingga kemudian bisa dipercaya untuk jadi presiden, kalau wapres okelah," ujar dia.

Lukman mengatakan, bila Demokrat mengusung Gatot dan mendapatkan wakil yang religius, maka akan terjadi persaingan ketat dalam Pilpres 2019.

"Oleh sebab itu bila poros ketiga jadi dengan usung Gatot sebagai capres dan wakilnya nasionalis religius akan menjadi persaingan ketat, sehingg kita tidak bisa menghitung siapa the next presiden," ujar Lukman.

Lukman berpandangan, Jokowi berpeluang kembali terpilih bila hanya terdapat dua calon dalam pilpres. Kedua calon tersebut yaitu Jokowi dan Prabowo.

"Peluang Jokowi masih besar terplih bila hanya ada dua calon, yaitu bila Pak Jokowi vs Prabowo. Kalau ini terjadi dan duluan Pak Prabowo menggandeng tokoh Islam moderat dan Jokowi menggandeng tokoh Islam moderat juga, ini peluang Jokowi menang sangat besar," pungkasnya.