Piramida, Menjadi Kata Ajaib bagi Gunung Padang

Sejak penelitian di situs megalitikum Gunung Padang mengungkap temuan adanya bangunan prasejarah yang tertimbun dibawah permukaan, situs yang terletak di desa Karyamukti, Campaka, Cianjur, Jawa Barat itu menjadi pusat perhatian publik. Para ilmuwan masih berusaha menguak misterinya, sementara wisatawan terus berdatangan.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, Gunung Padang menyimpan potensi luar biasa sebagai destinasi wisata. Ada “kata-kata ajaib” yang menjadi magnet bagi Gunung Padang, tak hanya bagi wisatawan lokal, tapi juga manca negara.

Belum lama ini, Menpar telah mengagas program promosi pariwisata baru bertajuk Great Jakarta. Gunung Padang termasuk salah satu dari berbagai objek pariwisata yang akan dipromosikan dalam program tersebut.

Hari ini, Kamis (20/11), Arief sengaja berkunjung ke Gunung Padang. Didampingi Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan sejumlah peneliti, ia melihat perkembangan situs Gunung Padang yang akan dimasukkan dalam Great Jakarta itu. Kedatangan Arief disambut dengan pemakaian iket ketopong dan tarian Lengser.

“Ini adalah mahakarya yang secara produk layak disebut sebagai “Piramida Gunung Padang”. Kata ini menjadi magic, semua orang akan penasaran datang ke sini," ujar Arief.

Arief mengajak, jangan hanya para ilmuwan saja yang datang ke Gunung Padang. Nilai budaya dan filosofi tinggi yang tersimpan di situs ini adalah daya tarik tersendiri dan bisa dijual kepada wisatawan.

“Antara social value dan economic value harus diseimbangkan. Kalau kita punya ini, kita harus bisa apa. Ini adalah mahakarya yang secara produk layak disebut Piramida Gunung Padang," ujar dia.

Saat ini, Gunung Padang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Akan tetapi, situs arkeologi fenomenal ini, ternyata, belum ditetapkan sebagau destinasi wisata.

Menpar Arief Yahya mengatakan akan berkordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pemda setempat, terkait hal ini. “Saya ke sini izin dulu dengan Pak Anies (Mendik Anies Baswedan-red). Ini belum ditetapkan jadi destinasi pariwisata, jadi saya izin dulu dengan Mendik," ujar Arief.

Arief membandingkan Gunung Padang dengan Candi Borobudur. Pada zaman Belanda, kondisinya sama seperti Gunung Padang saat ini, yaitu menjadi situs arkeologi dalam upaya untuk merestorasinya. Ketika selesai direstorasi, Candi Borobudur bisa seutuhnya menjadi objek wisata. “Mungkin langkah berikutnya ada di pemda. Begitu ditetapkan sebagai destinasi pariwisata akan jauh lebih mudah," ujarnya.

Dengan menjadi objek wisata, Gunung Padang bisa membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Namun Arief mengingatkan tradisi luhur yang ada dikawasan ini harus tetap dipelihara. “Dengan mahakarya seperti ini, hampir pasti mudah sekali dibuat produk yang unggul," ujar Arief yakin.