Perlu Kepemimpinan yang Efektif di Era Digital

Transformasi pemerintahan dari sistem manual ke elektronik (e-government) yang berbasis teknologi dan informasi, tengah perjadi di Indonesia saat ini. Globalisasi, turut mencetuskan adanya transformasi pemerintahan tersebut.

Transformasi ini sebagai upaya mendorong keterlibatan partisipasi rakyat secara massif dalam mekanisme demokrasi. Sehingga ikut memunculkan ide, perlu adanya suatu pemerintahan yang efektif dan efisien dalam melayani rakyatnya selama 24 jam nonstop dimanapun dan kapanpun, tanpa adanya penghalang.

Rektor Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, Panji Hendrarso mengatakan, era revolusi industri 4.0 sudah di depan mata dan teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Sehingga e-government menjadi konsep pemerintahan masa depan. Di mana, ilmu pengetahuan menjadi pijakan untuk mendirikannya dengan ditopang oleh teknologi dan informasi. Segala hal pun menjadi tanpa batas dengan penggunaan daya komputasi dan data yang juga tidak terbatas.

“Semua itu dipengaruhi perkembangan internet dan teknologi digital yang masif. Peran generasi muda dalam pembangunan bangsa, penting agar mampu berkolaborasi membawa Indonesia menjadi jauh lebih baik di masa depan. Apalagi, era saat ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia termasuk didalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya disela kegiatan wisuda yang diikuti oleh 803 lulusan terdiri atas 27 wisudawan Program Vokasi, 479 wisudawan Program Sarjana dan 297 wisudawan Program Pascasarjana, di Jakarta, Kamis (26/04).

Menurutnya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah memberikan pedoman bagi pendidikan tinggi untuk menghadapi era digital dan revolusi. Kebijakan tersebut meliputi tentang pembelajaran dan kemahasiswaan, kelembagaan iptek dan dikti, sumber daya iptek dan dikti, riset dan pengembangan serta kebijakan penguatan inovasi. Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut, pihaknya telah mencanangkan 10 kebijakan strategis pada tahun akademik 2017-2018.

“Kebijakan tersebut tentunya yang arah pengembangannya diharapkan menjadi jawaban atas tantangan era revolusi industri 4.0. Diantaranya, pencapaian akreditasi program studi dan institusi, peningkatan pembelajaran berbasis ICT, peningkatan kualiatas penelitian dan pengabdian pada masyarakat, peningkatan sarana dan prasarana kampus, pembentukan ahlak mahasiswa dan peningkatan kualitas dosen,” ulasnya.

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainal Majdi atau dikenal dengan Tuan Guru Bajang, dalam orasi ilmiahnya mengingatkan, pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan bangsa. Apalagi, para wisudawan sebagai generasi muda diharapkan bisa berkolaborasi untuk membawa Indonesia menjadi jauh lebih baik di masa depan. Karena dirinya menganggap, Gerakan Revolusi Mental yang saat ini digencarkan pemerintah sesungguhnya mewakili keresahan masyarakat.

“Tetapi, jika gerakan tersebut hanya sebagai wacana dan tidak masuk dalam sistem pendidikan, maka Gerakan Revolusi Mental tidak akan ada gunanya. Karena kalau ingin membangun peradaban bangsa ke arah yang lebih baik, maka yang diperlukan adalah sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang mumpuni. Namun, terdapat juga satu faktor yang tidak kalah penting lainnya yakni kepemimpinan yang efektif,” tegasnya.

Dia menjelaskan, kepemimpinan memiliki fungsi yang sangat penting, apabila kepemimpinan itu mampu menghadirkan satu keteladanan yang baik. Dalam konsep Islam, kepemimpinan ideal itu harus memiliki tiga muatan. Pertama, muatan humanisasi, yakni kepemimpinan yang mampu menghadirkan dan senantiasa mentradisikan kebaikan. Kedua, kepemimpinan yang liberatif, yaitu kepemimpinan yang berusaha bersama-sama bekerja untuk menghilangkan hal-hal yang bersifat destruktif untuk kemanusiaan.

“Misalnya, melawan bebaskan manusia dari penjajahan. Karena dari awal, kita setting bangsa ini untuk ikut bekerja membebaskan manusia dari hal-hal dekstruktif, seperti melawan penjajahan, ketimpangan, kezaliman atau apapun yang merusak nilai kemanusiaan," ulasnya.

Kemudian, ketiga, katanya lagi, semua hal-hal yang dilakukan, termasuk dalam aspek kepemimpinan bukan sekadar tanda tangan atau sumpah jabatan di depan manusia, tapi ada tali kontrak kepada Allah SWT. Apabila kualitas kepemimpinan dapat dibangun sama-sama, maka dirinya yakin ke depan bangsa ini akan mampu lewati tantangan apapun.

“Pembicaraan kepemimpinan memiliki tempat yang penting dalam suatu peradaban. Salah satu sumber kearifan masyarakat Indonesia dalam berbangsa ialah beragama. Karena sebagai muslim, ketika buka Alquran, salah satu perhatian yang dibahas panjang lebar dalam Alquran ialah manusia dalam dimensi kepemimpinan," tutup pria asal Lombok ini.