Nita Yudi: Kiprah Perempuan Tak Sebatas Dapur, Kasur dan Sumur

Perempuan Indonesia terus diberdayakan untuk membangun kemandirian ekonomi di Indonesia. Perempuan memegang peranan yang sangat penting, mengingat potensinya yang besar. Faktanya, dari 230 juta jiwa penduduk Indonesia, 49,7 persen diantaranya adalah perempuan. Jika mereka berperan menjadi enterpreneur, pasti akan membawa perubahan besar terhadap kemajuan bangsa ini.

Setidaknya, demikian keyakinan yang ada pada diri Nita Yudi Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). “Dengan jumlah perempuan di Indonesia yang cukup besar, kita harus bisa menjadikan perempuan lebih aktif, khususnya dalam membangun kemandirian ekonomi bangsa," ujarnya kepada politikindonesia.com, Senin (21/05).

IWAPI, ujar Nita, berkeinginan untuk mengembangkan potensi perempuan Indonesia menjadi seorang enterpreneur. Dengan perannya itu, perempuan dapat membantu meningkatkan ekonomi rumah tangganya. “Jadi perempuan itu harus bisa bersikap profesional dan proposional agar bisa membagi perannya, baik saat menjadi istri, ibu dan sebagai bos dari perusahaan dan karyawannya," ujar Nita.

Pemilik dan pengurus Univesitas Yayasan Administrasi Indonesia Jakarta ini menilai, selama ini telah banyak stimulus berupa kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki. Upaya tersebut tidak bisa hanya dilakukan pemerintah tetapi harus didukung oleh semua pihak.

Itulah yang coba dilakukan IWAPI. Dengan membina dan memberikan pelajaran tentang kemandirian bagi kaum perempuan Indonesia. Khususnya mereka yang berada di grassroot (akar rumput). Memotivasi kaum perempuan untuk memiliki jiwa entrepreneurship.

“Rasanya perlu adanya pembinaan dan pemberdayaan perempuan untuk proses percepatan pencapaian MDGs di negeri ini. Di antaranya dengan memberikan pelayanan, pelatihan serta pendidikan yang berbasis pemberdayaan perempuan yang produktif," paparnya.

Pada kesempatan ini, mantan Ketua IWAPI DKI Jakarta ini mengungkapkan kepada Elva Setyaningrum tentang bagaimana cara menjadi wanita pengusaha yang sukses. Nita juga menjelaskan apa saja yang sudah dilakukan pihaknya untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Serta harapan terhadap organisasi yang pimpinnya tersebut. Berikut petikannya.

Bagaimana caranya bagi perempuan untuk memulai sebuah usaha?

Menjadi seorang entrepreneurship yang paling utama diperlukan adalah keberanian, itu yang utama. Menjadi wirausaha itu harus tahan mental. Karena, sebuah usaha pasti akan menemukan tantangan dan mengalami masa pasang surut. Menghadapi itu harus berani. Mental harus kuat agar bisa survive.

Syarat penting lainnya adalah pengetahuan dan keahlian. Tentunya, pengetahuan dan skil yang dibutuhkan ini terkait dengan usaha yang akan dirintis.

Hal lainnya adalah modal usaha yang cukup. Bagi pemula yang merasa modal usahanya kurang, tak perlu khawatir karena sekarang Depkop telah meluncurkan program kredit usaha rakyat (KUR) dan dunia perbankan pun siap membantu. Asalkan, usaha yang sedang di jalankan itu jelas usahanya dan optimis.

Tak hanya itu, para calon wirausahawan juga harus jeli melihat pasar dan daya jual hasil usaha yang dijalankannya. Pengetahuannya tentang pasar harus terus dipelajari.

Kami sering mengadakan pelatihan bisnis untuk memotivasi perempuan Indonesia berani terjun ke dunia usaha. Kami membekali mereka dengan berbagai ilmu untuk terjun ke dunia usaha.

Bagaimana pandangan anda tentang potensi perempuan sebagai penggerak ekonomi bangsa?

Perempuan tidak boleh dilirik sebelah mata. Potensi perempuan di Indonesia sangat bagus sebagai penggerak ekonomi bangsa. Saat ini merupakan waktu yang tepat bagi pengusaha untuk berkembang. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia amat pesat dan Indonesia pun menjadi incaran para investor dari dalam dan luar negeri. Dengan banyaknya para investor, diharapkan, para pengusaha IWAPI berskala mikro, kecil, dan menengah di masa mendatang naik kelas menjadi pengusaha skala besar.

Apa saja yang dilakukan IWAPI untuk memberdayakan perempuan Indonesia?

Untuk memberdayakan perempuan, kami fokus pada 3 program yang bisa menguatkan kelemahan usaha skala mikro kecil dan menengah (UMKM). Ketiganya ialah Program Pengembangan sumber daya manusia (SDM) agar para pelaku UMKM bisa lebih kreatif agar produknya bisa bersaing dengan negara lain, baik pengembangan dan manajemen. Program kedua, peningkatan pembiayaan untuk mencari bantuan modal. Dan, ketiga program pengembangan pemasaran produk hingga ke pasar global.

Terbukti, berbagai jenis produk UMKM sudah masuk sejumlah pasar modern. Ketiga program tersebut harus dijalankan agar pengusaha wanita bisa naik kelas dan mampu mengembangkan usahanya hingga besar agar wanita lainnya bisa mandiri. Untuk program tersebut harus dilandasi oleh semangat kewirausahaan dan tekad mewujudkan wirausaha yang tangguh dan berdaya saing untuk memajukan perekonomian Indonesia. Karena negara yang maju harus memiliki minimal 2 persen wirausaha dari total jumlah penduduknya, sehingga jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan dan tercapainya kesejahteraan rakyat.

Untuk mensukses ketiga program tersebut, apa saja yang Anda lakukan?

Demi tercapainya program tersebut, kami tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu kami mengedepankan sikap kemitraan dengan semua pihak terkait, seperti sinergi pihak pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), swasta bahkan luar negeri. Karena denga sikap kemitraan itu, kita bisa mengembangkan dan menambah modal untuk mengembangkan usaha kita, mengingat jumlah pelaku UMKM perempuan di Indonesia ada sekitar 22 ribu dari 49 ribu UMKM di Indonesia. Saat ini untuk permodalan UMKM, kami sudah bekerjasama dengan sejumlah bank yang ada di Indonesia.

Bagaimana pandangan anda terhadap peran pemerintah selama ini?

Kami berharap pemerintah terus meningkatkan kepedulian untuk memberikan kemudahan bagi pengusaha. Ini termasuk kepastian hukum, ketahanan pangan, kestabilan harga termasuk harga tarif dasar listrik, kredit bank hingga persentase pajak dan pungutan retribusi yang masih menjadi penyebab ekonomi biaya tinggi.

Mengenai kredit bank, kami meminta pemerintah menurunkan suku bunga KUR yang masih tinggi serta mendesak perbankan mengecilkan bunga di bawah 18 persen menjadi 14 persen bagi nasabah UMKM. Seharusnya KUR bisa menurunkan bunganya hingga 8-9 persen sehingga lebih terjangkau bagi ekonomi mikro. Karena cara-cara itu bisa meringankan banyak pengusaha, juga pengusaha perempuan. Jadi kami siap menjadi mitra strategis pemerintah untuk mensukseskan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) agar terwujud wirausahawan tangguh, mandiri, dan berdaya saing untuk memperkokoh perekonomian Indonesia dalam mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Apa harapan Anda dengan IWAPI ini?

Diharapkan IWAPI menjadi organisasi yang pendorong kemajuan perekonomian rakyat terutama di sektor (UMKM). Perempuan Indonesia harus setara dengan kaum pria dalam melaksanakan usahanya dalam meningkatkan perekonomian rakyat. Bahkan diharapkan menjadi pionir dalam pembangunan sehingga IWAPI dapat menjadi tolak ukur dan barometer nasional dalam kesetaraan gender kaum perempuan dengan kaum pria.

Tekad kami sangat kuat untuk memajukan perempuan Indonesia. Kami tidak menginginkan wanita hanya berkiprah sebatas di dapur, kasur dan sumur saja.