Mendag: Indonesia Siap Hadapi Perang Dagang

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan Indonesia melawan upaya perang dagang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Uni Erupa. Indonesia akan melakukan tindakan balasan, jika ekspor minyak sawit (CPO) Indonesia diganggu.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani aturan pengenaan tarif 25 persen untuk impor baja dan 10 persen untuk alumunium. Sementara Uni Eropa saat ini tengah berencana mengeluarkan larangan penggunaan CPO sebagai bahan baku biofuel.

“Kalau perang dagang sudah dilakukan kami siap," kata Enggar di Jakarta, Jakarta, Jumat (09/03).

Enggar menyebut, Indonesia bisa membalas Uni Eropa dengan menahan produk impor asal negara-negara tersebut untuk masuk ke Indonesia.

Enggar menyebut, dalam waktu dekat, pihaknya berencana bertemu dengan Duta Besar Perancis untuk Indonesia membahas keinginan pemerintah mempertimbangkan kembali izin produk susu bubuk asal negara tersebut.

“Kita diganggu sawitnya, saya ganggu tuh mulai dari wine-nya. Kemudian Duta besar Perancis sudah mau bertemu, saya akan bilang sedang mempertimbangkan produk susu bubuk mereka. Toh izin impor di saya," tegas Enggar.

Enggar mengatakan, juga akan melakukan hal serupa untuk AS. “Yang pasti, kalau itu sudah menjadi keputusan politik, kita lakukan.Kita siap," ujar dia.

Mendag menilai. langkah AS menaikan bea masuk untuk baja, dampaknya tidak akan terlalu besar bagi Indonesia. Sebab Indonesia tak mengekspor baja ke AS.

Yang dikhawatirkan adalah baja China yang tadinya diekspor ke AS jadi berbelok ke Indonesia. Enggar mengatakan, pemerintah pun siap mengantisipasi bila baja China yang membanjiri pasar Indonesia.

“Itu sebenarnya dampaknya secara langsung tidak besar, karena impor kita besar dari China. Persoalan kita adu cepat industri hilirnya kita dorong, kedua adalah arus barang masuk apalagi pemeriksaannya post border," kata dia.

Enggar mengatakan pemerintah bisa membatasi arus impor kedelai dari AS. Hal itu sebagai sebagai langkah Indonesia dalam menghadapi perang dagang yang dilakukan oleh AS.

“Iyalah masa diam saja. Produk paling besar tergantung masing-masing negaranya. Kalau AS saya tidak terganggu untuk baja tapi kalau bio diesel, kedelai tarif tinggi, cuma persoalannya adalah sambil beriringan dengan itu, saya penikmat tempe dan tahu, bisa tingkatkan impor, di sana penerimaan tinggi, kita tinggi," tegasnya.