Meluruskan Pandangan Keliru Soal Susu Kental Manis

Susu bermanfaat sangat baik bagi tubuh. Kalsiumnya, baik untuk pertumbuhan dan menguatkan tulang. Akan tetapi, masih banyak pandangan yang keliru tentang susu kental manis (SKM). Mereka menganggap SKM sama baiknya dengan susu dan dapat menggantikan air susu ibu.

Padahal tidak. SKM lebih tepat digunakan sebagai bahan mengolah makanan karena kandungan gulanya mencapai 40-50 persen. Sayangnya, masih banyak orang tua yang salah pengertian tentang SKM. Tak sedikit dari mereka yang memberikan SKM untuk di konsumsi anaknya setiap hari. SKM dianggap dapat menggantikan air susu ibu (ASI) atau memiliki tingkat nutrisi yang sama dengan susu.

Sekjen Ikatan Dokter Indonesia (IDl), Adib Khumaidi mengakui, saat ini ada perubahan tantanan konsumsi di masyarakat. Apalagi, makanan yang saat ini beredar lebih banyak mengandung gula daripada serat. Ditambahnya, ajakan dari media sosial terhadap makanan jenis baru yang tinggi mengandung lemak dan gula. Maka tak dipungkiri, angka obesitas setiap tahunnya cenderung meningkat tajam.

“Dulu, masyarakat di era 1960an, makanan sama dengan minuman. Jadi kalau kalau mereka makan sudah termasuk mereka juga minum. Adapun kalori yang diasup sekitar 800-1500 per hari. Tapi kalau masyarakat saat ini, khususnya anak-anak justru banyak sekali kalori yang diasuo setiap harinya sekitar 1500-3000 atau dua kali lipatnya dari orang jaman dulu. Maka tak heran, banyak yang mengalami obesitas,” katanya kepada politikindonesia.com di Jakarta, Jumat (15/12).

Menurutnya, tingginya angka obesitas terjadi, selain karena mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak gula, juga karena kesalahan dalam memenuhi nutrisi. Salah satunya, mengkonsumsi SKM setiap hari. Seharusnya, SKM tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari sebagai pengganti susu. SKM hanya diperbolehkan dijadikan topping makanan dan minuman. Karena SKM mengandung lemak dan gula tinggi.

“Biasanya kadar lemak di SKM bisa mencapai 8,5 persen dan 50 perse gula. Bahkan, proteinnya hanya sekitar 7,5 persen. Itu artinya, setiap satu gelas SKM sedikitnya bisa mengand­ung 20 gram gula, atau setara dua sendok makan. Jumlah tersebut terbilang tinggi, mengingat anjuran asu­pan gula harian tidak melebihi 25 gram. Asupan gula ber­lebih ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes anak,” ungkapnya.

Sayangnya, kata Adib lagi, sampai saat ini masyarakat beranggapan SKM baik untuk anak. Akibatnya, anak yang seharusnya diberi susu pertumbuhan malah diberi SKM dengan alasan praktis dan ekonomi. Bila hal itu terus berlanjut, dalam 20 tahun ke depan kesehatan anak-anak Indonesia jelas terancam. Maka, di sinilah peran rekan-rekan profesi kedokteran untuk terus mengedukasi masyarakat tentang asupan gizi yang perlu dan tidak baik untuk anak.

“Kami pun berharap, ada kerjasama antara semua pihak untuk mengatasi masalah ini. Saya pun berharap, agar produsen produk makanan dan minuman mulai melakukan promosi yang ber­tanggung jawab. Caranya, den­gan memberikan edukasi kepada konsumen mengenai kandungan produk, cara penggunaan dan takaran penyajiannya. Selain itu tentunya pemerintah juga harus bertindak. Lakukan sosialisasi, edukasi dan tegakan regulasi pangan yang aman untuk anak,” imbaunya.

Sementara itu, Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lenny Nurhayanti Rosalin, menambahkan, pihaknya juga mengamati isu SKM yang berkembang di masyarakat dari beberapa tahun belakangan ini dan menilai bahwa isu tersebut semakin tidak benar. Banyak masyarakat yang masih percaya bahwa SKM bisa menggantikan ASI, atau memiliki tingkat nutrisi yang sama dengan susu.

“Sebagai lembaga pemerintah, kami pun wajib menegur dan memberikan sosialisasi yang baik kepada perusahaan tersebut. Bagi mereka profit adalah hal yang penting, padahal tidak. Bahkan, kami juga pernah memberikan penyuluhan pada perusahaan tentang penggunaan styrofoam, mereka awalnya enggan mengganti styrofoam dengan kertas yang ramah lingkungan. Tapi kami terus memberikan edukasi, hingga mereka mengerti bahwa hal tersebut penting untuk dilakukan,” paparnya.

Menurut Lenny, masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama yang saat ini terjadi di Indonesia. Karena sangat berpengaruh dan menganghi tumbuh kembang anak. Sehingga harus jadi perhatian bersama. Karena ada 87 juta anak indonesia yang harus dilindungi. Bukan hanya dalam kasus kekerasan pada anak, tapi juga melindungi mereka dari penyakit-penyakit terselubung dan berbahaya. Hal itu terjadi, lantaran masih adanya anak yang belum di imunisasi, kurangnya asupan gizi dan rendahnya derajat kualitas kesehatan anak serta faktor penggunaan akses air bersih dan sanitasi yang baik di dalam rumah tangga.

“Rendahnya kualitas kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya masalah ekonomi untuk ketidakmampuan memberikan asupan gizi yang baik, kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang kesehatan yang benar dan pentingnya memberikan hak kesehatan bagi anak. Padahal setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dasar dalam rangka peningkatan kualitas derajat kesehatan sebagaimana yang diatur dalam Konvensi Hak Anak (KHA),” tandasnya.

Lenny menerangkan, keluarga memiliki peran pertama dan utama dalam menciptakan generasi yang selayaknya bisa tumbuh sehat, cerdas dan dilindungi. Oleh sebab itu, lingkungan yang ramah anak menjadi faktor penting selanjutnya untuk mendukung pembentukan mental dan akhlak generasi Indonesia. Sebab, tahun 2045 nanti, anak-anak berada dalam usia produktif. Indonesia emas 2045 akan terwujud, jika orangtua mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.

“Sebagai orangtua, kita harus bisa menciptakan suasana yang nyaman dan membuat anak-anak merasa dibutuhkan serta dipenuhi hak-hak mereka. Karena keluarga adalah refleksi lingkungan pertama, dimana anak-anak yang dibawah asuhan mereka mulai berlatih untuk mengenal kehidupan dan membekali diri di segala aspek, sebelum akhirnya mereka nanti terjun dalam lingkungan masyarakat,” pungkasnya.