Linda Amalia Sari Gumelar: Perempuan Harus Bisa Berantas Korupsi

Korupsi adalah masalah mendasar dalam pemerintahan saat ini dan selalu disandingkan dengan kekuasaan. Korupsi telah menjadi kejahatan serius yang telah menyebar luas dan sistematis. Pelakunya, mereka yang memiliki kekuasaan. Bisa siapa saja, laki-laki ataupun perempuan.

“Perempuan korupsi, laki-laki juga korupsi. Saya kira korupsi itu jangan dibeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki. Semua yang melakukan korupsi harus tetap di hukum," ujar Linda Amalia Sari Gumelar kepada politikindonesia.com usai seminar "Pemberdayaan Perempuan dalam Mencegah Tindak Korupsi", di Jakarta, Rabu (24/08).

Ketua Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) itu mengatakan, kaum perempuan punya peran strategis dalam memerangi korupsi. Selama ini, peran itu kurang diperhitungkan.

"Kalaupun perempuan mengetahui ada ketidakadilan akibat korupsi, perempuan biasanya tidak bicara sekeras laki-laki ketika melawan korupsi, sehingga sering kali pembahasan korupsi sangatlah kental dengan dunia laki-laki," ujar mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini.

Padahal, tambah Linda, perempuan dapat mengambil peran strategis dan mendasar dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Soalnya, perempuan merupakan komponen terpenting dalam pembentukan karakter anak-anak di dalam keluarga.

Perempuan juga merupakan sosok penting dan paling dekat dalam keluarga untuk menanamkan sikap antikorupsi sejak dini. Pendidikan dimulai dari dalam rumah, penanaman sikap jujur harus dimulai sejak dini, agar ke depannya keluarga itu mampu melahirkan anak-anak yang jujur dan membanggakan.

“Sosialisasi mengenai hal ini sudah kami lakukan sejak 2008, dan kami tidak akan pernah lelah untuk mengimbau masyarakat khususnya perempuan akan bahaya korupsi," ujar perempuan kelahiran Bandung, 15 November 1951 ini.

Kepada Elva Setyaningrum, lulusan Universitas Gadjah Mada ini memaparkan harapannya terhadap kaum perempuan Indonesia untuk ikut memberantas korupsi. Berikut wawancaranya.

Seperti apa anda melihat peran perempuan dalam perang terhadap korupsi?

Kami menganggap perempuan merupakan guru (pendidik) pertama dan utama bagi pendidikan anak-anaknya, calon generasi penerus bangsa, sebelum mereka berkiprah di masyarakat. Walau kita sadari tanggung jawab mendidik anak dalam keluarga harus dilakukan seiring sejalan antara ayah dan ibu. Tapi, peran ibu itu sangat penting.

Pendidikan di rumah merupakan pendidikan awal yang sangat menentukan karakter anak-anak nantinya. Maka untuk mewujudkan ketahanan dan kesejahteraan anggota keluarga harus dimulai dari tingkat keluarga. Itulah saat tepat menanamkan sikap anti korupsi pada anak.

Seberapa besar potensi perempuan dalam memberantas korupsi?

Kalau kita lihat, peran perempuan dalam hal penanganan korupsi selama ini, kurang diperhitungkan. Padahal, perempuan dapat berperan strategis dalam memerangi korupsi yang termasuk kejahatan serius.

Selama ini, kalaupun perempuan mengetahui ada ketidakadilan akibat korupsi, mereka tidak bisa bicara sekeras laki-laki ketika melawan korupsi. Sehingga sering kali pembahasan korupsi sangatlah kental dengan dunia laki-laki.

Saya ingin mengajak kaum perempuan untuk tampil di depan guna melakukan tindakan nyata pencegahan korupsi. Dengan jumlah sekitar 49,7 persen dari jumlah penduduk Indonesia (sensus penduduk 2010), perempuan merupakan kekuatan besar yang harus dilibatkan dan harus mau serta mampu mengambil peran untuk mendukung pencegahan atau hapusnya praktek-praktek korupsi di Tanah Air.

Selain itu, kaum perempuan juga bisa berpartisipasi dengan melindungi diri dari korupsi dan menjadi agen pencegahan korupsi dengan menyebarluaskan pengetahuan modus yang berpotensi korupsi.

Bagaimana menanamkan sikap anti korupsi sejak dini?

Peran perempuan sebagai ibu sosok yang paling penting dan daket dengan keluarga menjadi kuncinya. Misalnya, dengan menanamkan sikap jujur, disiplin, pada anak sejak dini.

Contoh sederhananya, dengan menanyakan kembalian uang usai menyuruh anak membeli sesuatu di warung. Hal ini kelihatan sepele, tapi itu akan melatih kejujuran anak sejak dini.

Pendidikan agama dan pendidikan karakter yang baik akan menjadi bekal bagi anak-anak tersebut saat nanti dewasa dan berbaur dengan masyarakat. Karakter yang baik akan membuat mereka menjadi benteng yang kokoh dan tidak mudah tergoda oleh perilaku-perilaku koruptif.