LAPAN: Bangkai Tiangong-1 Jatuh di Samudera Pasifik

Lembaga Antariksa dan Penerangan Nasional (LAPAN) menyatakan bangkai stasiun antariksa China, Tiangong-1, telah jatuh di Samudera Pasifik. Pesawat itu jatuh pada Senin (02/04) pagi sekitar pukul 7.16 WIB.

Situs Orbit Sains LAPAN menernagkan, Tiangong-1 jatuh melewati Samudera Atlantik, Afrika, Asia, dan berakhir di Samudera Pasifik tanpa melewati wilayah Indonesia.

“Menjelang jatuhnya dalam sebulan terakhir, Tiangong-1 mengalami penurunan ketinggian rata-rata sebesar 3.2 km/hari. Jika ketinggiannnya mencapai 120 km maka ia dianggap mengalami atmospheric reentry sehingga secara cepat akan jatuh menuju permukaan bumi," terang LAPAN.

Lokasi pendaratan Tiangong-1 ini terletak lebih ke utara dari Point Nemo. Point Nemo sendiri adalah kuburan benda antariksa yang ada di Samudra Pasifik dan jauh dari daratan. Tempat ini dipilih agar bangkai benda antariksa yang sudah pensiun tak menimbulkan bahaya bagi manusia.

Sebelumnya, diperkirakan masuknya kembali Tiangong-1 ke atmosfer Bumi akan membuat pesawat tersebut pecah jika tidak habis terbakar. Pecahannya akan menyebar pada area yang panjangnya bisa mencaai ribuan kilometer dengan lebar puluhan kilometer di permukaan bumi.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan lebih lanjut di mana saja serpihan Tiangong-1 mendarat. Namun tak ada kemungkinan serpihannya menimpa seseorang di darat.

Tiangong-1 diluncurkan pada 2011 dan merupakan stasiun luar angkasa pertama China. Stasiun ini digunakan sebagai platform percobaan untuk proyek lain yang lebih besar. Misal untuk proyek Tiangong-2 yang meluncur pada September 2016. Tiangong-2 akan menjadi stasiun luar angkasa China permanen di masa depan.

Kontak dengan stasiun Tiangong-1 terputus pada 2016. Sejak saat itu, orbitnya secara berkala semakin mendekat ke bumi dengan sendirinya.