Koruptor Punya Generasi Penerus

Koruptor punya generasi penerus. Mereka selalu melakukan kaderisasi. Pengetatan aturan serta gencarnya tindakan pemberantasan tidak membuat mereka surut. Koruptor pun terus meningkatkan kemampuan melawan dan cara berkelit dari jeratan hukum yang mengincarnya.

Setidaknya, demikianlah gambaran yang disampaikan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas tentang sepak terjang koruptor saat ini. “Ingat. Koruptor itu juga melakukan kaderisasi dan selalu melakukan advance training," ujar dia di Yogyakarta, Sabtu (17/09).

Kata Busyro lebih lanjut, selain intensif melakukan kaderisasi dan advance training, mereka juga punya instruktur-instruktur handal yang bisa mengasah kemampuan kader-kadernya, para koruptor muda.

Dari sisi kemampuan, koruptor yang sistemik ini juga sangat meyakinkan. Tempat training mereka bukan di tempat ibadah atau hotel-hotel kelas melati. Melainkan di hotel-hotel mewah atau hotel berbintang. “Pesertanya adalah kandidat koruptor muda. Nanti akan kita klasifikasi berdasarkan umurnya.”

Gambaran seperti itu terlihat dalam beberapa kasus korupsi di daerah-daerah, yang kebanyakan dilakukan oleh Bupati dan anggota dewan. Modusnya, anggota DPRD memanggil Bupati untuk melakukan perubahan pos anggaran. Itu salah satu caranya.

Itulah yang terjadi jika sebuah pemilihan umum kepala daerah berlangsung secara korup. “Yang menang dalam pemilukada di daerah itu bukan bupati terpilih, tapi cukong anggaran dan cukong politik, karena merekalah yang mengatur," katanya.

Bukan itu saja. Ketika sebuah kejahatan mereka terbongkar, para pembela hukum koruptor yang beraksi. Sayangnya mereka kerap berperilaku tidak profesional. Misalnya, dengan mengumpulkan saksi-saksi untuk mengatur skenario kesaksian sesuai dengan yang diinginkan.

Busyro mengingatkan, pengacara yang seperti ini hanyalah budak dari pelaku koruptor. “Kalau sudah seperti itu mereka hanya jadi jongos kliennya. Yang seperti inilah yang sering mengacaukan penegakan hukum di Indonesia," ucap Busyro.