Konstruksi Situs Gunung Padang Setara Michu-Pichu

Tim Terpadu Riset Mandiri yang melakukan penelitian di situs Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Cianjur Jawa Barat berhasil membuktikan bahwa situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara itu bukanlah sekedar tumpukan batu yang disusun secara sederhana. Gunung Padang ternyata adalah sebuah struktur punden-berundak raksasa yang dibuat dengan desain arsitektur-konstruksi yang tergolong sangat maju pada zamannya.

Demikian kesimpulan sementara Tim Riset Mandiri Terpadu yang disampaikan oleh DR Boediarto Ontowirjo. “Tim sudah membuktikan bahwa situs Gunung Padang adalah sebuah struktur punden-berundak raksasa yang menutup lereng-lereng bukitnya dan dibuat dengan desain arsitektur-konstruksi yang ‘advance.’ Bisa kita bilang setara atau mirip dengan konstruksi bangunan Michu-Pichu di Peru,” ujar Boediarto kepada politikindonesia.com, Kamis sore (28/06).

Dijelaskan Boediarto, hasil survei pencitraan bawah permukaan dengan metoda Geolistrik, Georadar, dan Geomagnet menunjukan ada geometri-konstruksi bangunan di bawah situs Gunung Padang. Bangunan ini paling tidak menempati sekitar 15 meter bagian puncaknya.

Bangunan di bawah teras-teras Gunung Padang tersebut kelihatannya mempunyai chamber-chamber besar. Ini terlihat dari struktur veryhigh resistivity dari hasil survei geolistrik. Kata Boediarto, bagian kecil dari salah satu chamber yang berada di teras 5 (bagian selatan situs) ini sudah dibuktikan dengan pemboran. Ternyata memang benar sebuah rongga, tapi diisi oleh pasir (dengan butiran seragam). “Sepertinya untuk menyimpan sesuatu.”

Ia menyebut, perkiraan umur situs Gunung Padang di lapisan paling atas secara arkeologi (berdasarkan kesamaan bentuk artefak) diduga sekitar 2800 Sebelum Masehi. Dari penentuan umur absolut berdasarkan analisa carbon radiometric dating, umur sampel serpihan karbon dibawah lapisan atas situs pada kedalaman 3-4meter didapat umur maksimum (paling tua) 4500 SM. Dengan kata lain, perkiraan umur dari bangunan di lapisan atas adalah sekitar 2800 - 4500 SM.

Lebih jauh ia menyebut, bangunan di bawah permukaan situs diduga kuat merupakan bangunan yang lebih tua. Pasalnya, dari hasil penentuan umur carbon radiometric dating dari sampel serpihan karbon yang terdapat pada pasir di rongga yang di-bor di Teras 5 tersebut menunjukkan umur (maksimum) sekitar 10.500 SM.

Memang, sambung Boediarto, umur ini belum bisa dipastikan sebagai umur bangunannya. Karena, bisa jadi merupakan umur dari material pasirnya saja yang di bawa dari tempat lain. Tapi paling tidak, umur ini sudah membuktikan bahwa lapisan batuan-tanah sampai kedalaman 15 meter adalah sebuah konstruksi bangunan bukan lapisan batuan alamiah.

Boediarto menyebut, target ke depan adalah melakukan analisis penentuan umur lapisan dan pemeriksaan laboratorium dari materialnya, termasuk untuk memastikan apakah situs Gunung Padang dan bangunan di bawahnya itu merupakan produk satu peradaban atau lebih dari satu peradaban yang kurun waktunya berbeda.

Untuk memvisualisasikan lebih jelas lagi bentuk arsitktur Gunung Padang diperlukan survei analisis lanjutan. Termasuk chamber-chamber yang ada di dalamnya dan juga melanjutkan membuka akses masuknya.

Boediarto mengatakan, perlu eksplorasi yang lebih luas dan dalam lagi terhadap struktur bukit Gunung Padang. Pasalnya, berdasarkan survei pencitraan bawah permukaan yang sudah dilakukan, ada indikasi bahwa struktur bangunan tidak terbatas hanya setinggi 15 meteran di bagian atasnya saja tapi sampai setinggi 100 meteran ke bawahnya (sampai level parkir-pintu masuk Gunung Padang saat ini), atau bahkan sampai 300 meteran ke level Sungai Cimanggu. “Hal ini memang masih perlu survei yang lebih komprehensif, tapi kalau ternyata hal ini benar maka merupakan sesuatu yang truly extraordinary,” terang dia.

Kesimpulannya, ujar Boediarto, situs Gunung Padang ini bukan produk artefak dari masyarakat purba yang masih primitif tapi merupakan produk dari peradaban tinggi. Gunung Padang merupakan bukti nyata dari mahakarya arsitektur dari zaman pra-sejarah Nusantara. “Jadi Gunung Padang dapat menjadi Icon dan titik tolak untuk membuka lebih banyak lagi jejak peradaban Nusantara yang gemilang di masa purba,” ujar dia.

Karena itu, Tim Terpadu Riset Mandiri sangat berharap penelitian akan terus dilanjutkan. Sejalan dengan itu, berdasarkan temuan-temuan yang sudah ada dengan kaidah scientific yang dilakukan beberapa lintas ilmu, diharapkan instansi yang terkait dengan situs Gunung Padang serta Pemda setempat serta masyarakat untuk berembug bersama.

Diharapakan akan lahir rekomendasi untuk melakukan pembukaan tutupan tanah yang hanya setebal beberapa puluh sentimeter dilereng bukitnya. “Kalau dipandang baik dan positif, dapat mulai dilakukan untuk membuka dan memugar struktur teras-teras batunya yang selama riset terbukti sudah ada teras-teras baru,” tandas Boediarto.