Kisruh Garuda dan Isu Pemogokan Pilot

Penundaan sejumlah penerbangan Garuda sampai Senin (22/11), melahirkan isu tak sedap. Berhembus kabar, pilot dan kru sedang mogok kerja terkait masalah internal. Karena itu, sejak kemarin, terjadi kekisruhan pada jadwal penerbangan BUMN itu.

Kepada pers, Senin, Presiden Asosiasi Pilot Garuda, Stephanus Gerrardus mengatakan, batalnya sejumlah penerbangan sejak Minggu (21/11), tak ada kaitannya dengan para kru. Itu murni kesalahan dari sistem yang ada di Garuda.

Stephanus merasa perlu meluruskan kabar pembatalan penerbangan itu, dengan isu para kru mogok kerja. Menurut dia, berita itu tidak benar. Karena, baik pilot maupun kru lainnya, itu satu komando dalam asosiasi ini.

Stephanus heran masalahnya menjadi simpang siur seperti. Soalnya, saat sejumlah jadwal penerbangan Garuda menjadi kacau, seluruh kru sudah berada di lapangan. Menurut dia, semua crew, termasuk pilot sudah siap terbang sesuai jadwal.

Yang menjadi tanda tanya bagi Stephanus, kenapa insiden yang membuat ribuan penumpang itu terlantar, isu dibelokkan seolah-olah menjadi kesalahan para crew. "Seharusnya pimpinan Garuda sampaikan yang sebenarnya dong, sebagai ketua jangan malah menutupi."

Secara resmi, melalui Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Pujobroto, pihak Garuda mengatakan, kekacauan itu terjadi karena adanya perubahan sistem. Mereka beralih ke sistem baru untuk mengintegrasikan sistem yang ada.

Kepada pers, Pujobroto mengatakan, selama ini Garuda memiliki 3 sistem yang memonitor pergerakan pesawat. Ada sistem yang memonitor pergerakan para awak kabin, ada juga sistem yang memonitor jadwal penerbangan. Sistem ini masing-masing berdiri sendiri.

Garuda menjajal penyatuan 3 sistem monitor yang awalnya terpisah itu. Sistem baru itu, dikenal dengan istilah Integrated Operational Control System (IOCS). Intinya, sistem yang awalnya sendiri-sendiri kemudian diintegrasikan menjadi satu.

Sayangnya, meskipun telah disiapkan dengan matang, dengan beberapa kali uji coba, saat diterapkan meleset dari harapan. Padahal, kata Pujobroto, sistem sudah disiapkan, dan disimulasikan. Tetapi, karena menyangkut banyak data, masih ada kendala dalam penerapannya.

Menurut Stephanus, kabar adanya perbaikan sistem di Garuda itu, sudah terdengar sejak 3 hari lalu. Namun jika pada hari H nya terjadi peristiwa seperti ni para kru tidak mengerti. Pasalnya, jadwal mereka juga terganggu.

"Saya sendiri saja yang seharusnya tiba dari Singapura sejak sore baru tiba pukul 01.00 WIB. Bahkan ada teman-teman yang tiba pukul 04.00 WIB," kata Stephanus.

Karena itu, Stephanus meminta Garuda tidak mendiamkan kabar tentang mogoknya para kru itu. Selain itu, Dia juga meminta manajemen Garuda, tidak memberangkatkan pilot yang baru saja tiba karena kekacauan sistem yang dilakukan Garuda.

"Kita nggak mungkin terbang dalam keadaan belum fit, karena ini demi keselamatan penerbangan. Kita baru bisa beraktivitas kembali setelah istirahat beberapa saat," tegasnya.