Ketika Riset Gunung Padang Kembali Dipersoalkan

Sejumlah ahli kembali memunculkan sikap skeptis mereka atas penelitian Gunung Padang yang dilakukan Tim Terpadu Riset Mandiri. Mereka bahkan sampai pada rekomendasi, meminta Presiden Terpilih Joko Widodo nanti, untuk menghentikan kelanjutan penelitian tersebut.

Para peneliti tersebut, mengemukakan pandangannya dalam Seminar Nasional “Situs Gunung Padang dan Permasalahannya” yang digelar di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (07/10) kemarin.

Kepada media, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad, Nina Herlina Lubis, menyampaikan kesimpulan para ahli arkeologi, geologi, serta ahli sejarah dalam seminar tersebut.

Mereka menyimpulkan, Gunung Padang adalah gunung api tua yang sudah mati. Masyarakat sekitar memanfaatkan columnar joint atau balok-balok batu untuk budaya pemujaan dengan membangun punden berundak.

Kesimpulan lainnya, fungsi dari situs Gunung Padang adalah multicomponent site, pemanfaatannya pun dilakukan berulang-ulang oleh manusia-manusia berikutnya, termasuk seperti saat ini yaitu untuk pariwisata.

Selain itu, disimpulkan bahwa situs Gunung Padang tidak dibangun seluruhnya oleh manusia Cianjur. Gunung Padang murni punden berundak dan tidak ada piramida di bawahnya.

Bagian lain dari kesimpulan itu adalah tudingan, bahwa ada pelanggaran Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar budaya oleh Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang melakukan penelitian. Solusinya, para ahli akan menyampaikan usulan agar penelitian TTRM dihentikan karena dianggap merusak situs.

“Kita akan menyampaikan hasil seminar ini. Sudah kami rencanakan menghadap ke kabinet Pak Jokowi," ujar Nina kepada pers.

Kalau pun penelitian Gunung Padang masih terus dilanjutkan, Nina meminta agar tim peneliti bisa lebih berkompeten dan tidak seperti saat ini yang malah merusak. “Kita akan mengusulkan tim peneliti nasional terkait yang berwawasan pelestarian. Tim yang dibentuk harus menjalani fit and proper test.

Selain itu, Nina juga meminta agar penggalian bisa melibatkan Universitas Padjadjaran. Namun, Universitas Indonesia yang saat ini sudah masuk harus tetap terlibat dalam penggalian ini. “Kami tetap akan meminta dukungan UI sebagai universitas negeri terkemuka," ujar dia.

Debat tentang penelitian Gunung Padang memang bukan cerita baru. Sejak Tim Terpadu Riset Mandiri mempublikasikan hipotesanya beberapa tahun lalu -- bahwa Gunung Padang bukanlah seperti apa yang diasumsikan sejumlah ahli selama ini -- kontroversi pun muncul.

Dari serangkaian penelitian yang dilakukan TTRM, publikasinya selalu saja mendapat respon negatif dari mereka yang sejak awal menentang.

Sayangnya, seminar yang diberi tajuk “Nasional” tersebut, tidak mengundang satupun peneliti TTRM untuk mempresentasikan hasil riset mereka.

Padahal, TTRM baru saja menyelesaikan penelitian terbaru mereka di Gunung Padang yang berlangsung sejak 12 Agustus hingga 2 Oktober 2014. Penelitian ini dibawah arahan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud ini dibantu pula oleh TNI Angkatan Darat yang menggelar Karya Bakti Skala Besar di kawasan Gunung Padang.

Dari resume penelitian yang dipublikasikan, beberapa waktu lalu dipaparkan temuan baru hasil penelitian TTRM sejak tahun 2011 sampai awal 2014.

TTRM menyimpulkan penyebaran lateral (lapisan 1) situs megalitik itu meliputi seluruh bukit. Hasil survei lapangan dan pemindaian struktur bawah permukaan hasil survei geolistrik dan georadar dan juga survei arkeologi permukaan memperlihatkan bahwa Lapisan 1 melampar tidak hanya di bagian atas bukit seperti yang didefinisikan oleh Kemendikbud 1998, tapi melampar jauh sampai ke badan bukit seluas 15 hektar (±150.000 m2) dan jika diukur dengan bagian halamannya mencapai 29 hektar.

Temuan lainnya ada lapisan batuan artifisial (lapisan bangunan) di bawah permukaan. TTRM menyimpulkan, di bawah permukaan masih terdapat Lapisan 2 yang tersusun dari kolom‐kolom batu yang serupa dengan yang di atas permukaan tapi lebih rapih dan kompak serta mempunyai matriks perekat diantara batu‐batu kolomnya sampai kedalaman 4‐5m.

Di bawah lapisan 2 terus sampai kedalaman 15 meter masih terdapat susunan lapisan batu‐batu kolom yang diduga masih artifisial atau lapisan bangunan, yang oleh TTRM disebut sebagai Lapisan 3 dan lapisan 4a.

Temuan terbaru TTRM lainnya adalah formasi batuan lava andesit alamiah di lapisan 4b, yang diduga sudah dibentuk menjadi bagian inti dari bangunan.

Pemboran geologi menembus tubuh batuan lava andesit di kedalaman 15 meter, sesuai dengan hasil pemindaian georadar, geolistrik, dan seismik tomografi. Tubuh lava ini kemungkinan merupakan formasi batuan alamiah Gunung Padang, tapi sudah dipahat oleh manusia menjadi bagian inti dari bangunan Gunung Padang.

TTRM juga menemukan keberadaan rongga‐rongga besar di bawah permukaan, diindikasikan dengan konsisten dari banyak Lintasan georadar dan geolistrik 2D, 3D dan seismik tomografi.

Kemudian, 2 lokasi pemboran di sisi selatan (GP‐2) dan timur (GP‐4) di Teras 5 mengalami “partial” dan “total loss”(32 rb liter air) dari sirkulasi air bor.

Disamping itu, TTRM menemukan lapisan tanah yang menutup permukaan atas bukit Gunung Padang kebanyakan adalah tanah timbun bukan residual soil. Hal ini jelas terlihat karena tidak ada gradasi pelapukan dari tanah di atas ke Lapisan 2 tapi kontak tegas. Fakta lain yang mengejutkan, sisi selatan Teras 5 ternyata ditimbun setebal sampai 7 m, ditunjukan oleh eskavasi sedalam 3 m dan pemboran di GP‐2 (sampai 15m).

Penelitian terdahulu dari tahun 1980 sampai 2011 belum melakukan penentuan umur situs, tapi hanya mengklasifikasikan Situs Gunung Padang sebagai produk budaya megalitik dari zaman pra‐sejarah sesuai dengan literatur yang ada.

TTRM adalah yang pertamakali dan masih satu‐satunya yang melakukan penentuan umur absolut situs dengan metoda karbon dating terlepas dari kekurangannya. Hasil sementara mengindikasikan bahwa umur situs lapisan 1 berkisar 500‐100 SM atau lebih muda, Lapisan 2 sekitar 5000 SM, dan Lapisan di bawahnya lebih tua dari 8000 SM. Umur karbon tertua yang diambil dari tanah diantara lapisan batuan adalah 26000 tahun.

Hasil eskavasi dan pemboran berhasil membuktikan temuan‐temuan TTRM. Hasil pembersihan lereng‐lereng dari kerimbunan semak‐semak dan pepohonan liar yang kemudian dilanjutkan dengan pemotretan udara 3D dengan memakai pesawat drone, kamera Go‐Pro dan AGI Software dapat memperlihatkan bentuk bukit Gunung Padang yang secara nyata memperlihatkan sebagian terasering lapisan batu di badan bukit serta mengesankan keberadaan bangunan mirip piramida di bawah bukit.

Disamping itu, hasil penelitian kotak eskavasi berhasil membuktikan secara nyata dan tuntas tanpa keraguan keberadaan lapisan batuan artifisial atau bangunan yang tertimbun tanah di bawah situs megalitik di atas bukit dan juga di lereng‐lerengnya.

Struktur bangunan pada lapisan 2 ini terbukti ada dan melampar di bawah situs megalitik di atas bukit sampai ke lereng badan bukitnya. Orientasi batu‐batu kolomnya sangat teratur, kokoh dan rapih, nyaris sepintas seperti struktur "columnar joint alamiah" (collonade).

Perbedaan tegas dengan yang alamiah adalah: struktur columnar joint alamiah yang terbentuk ketika lava atau cairan magma membeku arah memanjang kolomnya selalu tegak lurus permukaan pendinginan (=bidang lapisan) dan hubungan antar bidang kolomnya saling mengunci (interlocking) dan rapat atau tanpa matrix.

Sedangkan di Gunung Padang, arah kolomnya (hampir) sejajar bidang lapisan, antar bidang permukaan kolomnya tidak selalu saling mengunci dan selalu dipisahkan oleh matriks atau semen setebal 5‐10 cm.

Disamping itu, bukti arkeologis yang mendukung adalah ditemukan banyak artefak batu yang berfungsi sebagai pasak‐pasak atau atau kolom‐kolom batu yang sudah dipahat membentuk geometri untuk kuncian susunan batu, dan juga aspek‐aspek struktur artifisial bangunan.

Ditemukan juga banyak artefak lain yang unik‐unik di permukaan Lapisan 2. Di bagian Teras 1 dan 5 terlihat orientasi struktur kolom batu tegak lurus dengan arah memanjang situs. Di atas bukit batu‐batu kolom ini umumnya horisontal sedangkan di lereng barat dan timur membentuk sudut sekitar 10‐150 searah dengan kemiringan lerengnya.

Di Teras 2 dan lereng timur di bawahnya batu‐batu kolom ini secara unik disusun membentuk sudut sekitar 150 (sudut tajam menghadap utara). Tahap selanjutnya, perlu dilakukan eskavasi lebih extensif lagi untuk mengtahui arsitektur bangunan lebih detil dan komprehensif.

Geometri dan struktur susunan batuan artifisial, khususnya lapisan 2 dibuktikan oleh eskavasi dan rekonstruksi bawah permukaan.

Dalam kesimpulan dan sarannya, TTRM menyatakan, telah berhasil membuktikan bahwa situs Gunung Padang bukan hanya situs megalitik cagar budaya biasa, tapi satu monumen bangunan raksasa yang unik dan luarbiasa dari leluhur Nusantara ribuan tahun sebelum masehi.

Bentuknya mirip dengan struktur piramida tapi tidak sama dengan piramida di Mesir atau di Amerika Selatan (peradaban Maya). Monumen peradaban maju zaman prasejarah ini layak disebut sebagai Piramida khas Nusantara. Eksplorasi belum selesai namun bisa dipastikan di dalamnya masih banyak menyimpan misteri warisan budaya "beyond imagination".

Ke depan, karena akan memerlukan proses eskavasi yang sangat intensif maka disarankan mulai masuk ke tahap pemugaran berbarengan dengan penelitian lanjutan.

Penanganannya harus dilakukan secara multi‐disipliner dan lintas sektoral karena menyangkut banyak aspek dan kepentingan termasuk aspek vital‐strategisnya untuk dijadikan kebanggaan nasional dan simbol jati diri bangsa yang besar dan luhur.

Lebih jauh lagi temuan besar di Gunung Padang dapat menjadi awal dan model untuk eksplorasi penelitian lebih luas dalam mengungkap kekayaan warisan leluhur di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan dua kelompok peneliti yang memiliki berpandangan berbeda itu, mana yang anda percaya? Agaknya, waktu yang akan membuktikan tentang misteri Gunung Padang itu. Semoga saja.