Kaitan Erupsi Gunung Api dan Pemanasan Global Hanya Co-Inside

Keterkaitan letusan gunung api dengan pemanasan global hanyalah "co-inside", yang memiliki “temporal correlative” dan berkorelasi secara waktu. Hubungan keduanya bukan “causal correlation”, atau pengaruh sebab-akibat yang bisa dipahami secara sederhana. Hubungan pemanasan global dengan letusan gunung api, ibarat siang dan malam. Itu sebuah siklus, berurutan dan berulang kali, tapi bukan sebuah sebab-akibat.

Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Rovicky D Putrohari, menanggapi pendapat geofisikawan Geomar, Marion Jegen yang menyebut, bahwa peningkatan pesat pada tingkat ketinggian air laut bisa memicu bertumbuhnya letusan gunung berapi

Hasil penelitian yang dilansir Live Science, Kamis (03/01) itu, menyebut, selama periode panjang perubahan iklim di miliaran tahun terakhir, peningkatan kecepatan melelehnya gletser dan peningkatan ketinggian air laut pada akhirnya berdampak pada makin banyaknya letusan gunung api.

Jegen mengemukakan, kebanyakan orang telah sejak lama beranggapan bahwa letusan gunung api bisa memicu perubahan dramatis pada iklim, seringkali dengan cara yang dahsyat. Misalnya, dalam kepunahan massal yang terjadi di akhir periode Permian.

Namun, sedikit orang yang menduga bahwa perubahan iklim bisa menjadi pemicu letusan gunung berapi. Sedangkan soal perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia, menurut Jegen, pengaruhnya tidak akan terjadi dengan kilat. Ia memprediksi ada rentang waktu sekitar 2.500 tahun sebelum dampak itu dirasakan.

“Saya melihatnya sebagai "Co-inside". Memiliki "temporal correlative" berkorelasi secara waktu. Yang satu naik, yang lain juga naik. Yang satu turun yang lain juga bersamaan turun,” ujar Rovicky, kepada politikindonesia.com, Jumat (04/01).

Akan tetapi, hubungan pemanasan global dan erupsi gunung api itu bukan sebuah "causal correlation” atau hubungan sebab akibat yang dipahami secara sederhana. Rovicky mengatakan, memang ada ‘temporal delay correlation" yang sering dipakai sebagai sebuah pemikiran sebab akibat. Namun, ujar dia, tidak semua gejala yang memiliki "temporal delay correlation" selalu merupakan sebab akibat.

Rovicky menyebut, sesuatu gejala siklus lebih rumit lagi kalau harus dipakai dalam "causal relation". “Siang-malam sebuah siklus. Berurutan dan berulang tapi bukan sebab-akibat. Demikian juga gempa, pemanasan global, vulkanik dan gejala alam lain,” ujar dia.