Indonesia Terus Kembangkan Tebu Biotek

Berbagai upaya dilakukan perusahaan pergulaan swasta maupun milik pemerintah untuk menggenjot produksi tebu maupun rendemennya. Produk bioteknologi menjadi harapan baru untuk meningkatkan produksi tebu.

“Sayangnya banyak orang bahkan petani tebu yang takut tanaman hasil rekayasa gen ini akan menimbulkan efek lain. Namun saat ini Indonesia sudah mempunyai produk tebu transgenik atau tebu biotek yang akan di tanam oleh petani. Tebu biotek baru dihasilkan PTPN Xl yang memiliki keunggulan tahan terhadap kekeringan yang mampu mengatasi cuaca,” kata Direktur Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBIC), Bambang Purwantara disela seminar bertema “Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek 2017”, di Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/08).

Menurutnya, tebu biotek tersebut saat ini posisinya sudah tinggal menunggu pelepasan. Namun ada satu regulasi, terkait dengan proses monitoring sehingga belum bisa dilepas ke pasar. Regulasi yang masih dalam monitoring yaitu mengenai keamanan lingkungan dan ketahanan pakan. Oleh sebab itu, pihaknya meminta Kementerian Pertanian untuk bisa diselesaikan. Karena untuk resiko ketahanan lingkungan dan ketahanan pangan, izinnya sudah turun.

“Walau begitu, saat ini tebu tahan kering itu sudah bisa ditanam di daerah Indonesia Timur yang curah hujannya rendah. Sehingga bisa menghasilkan lebih banyak luasan tanaman tebu yang tidak hanya butuh banyak air, tetapi juga yang hemat air. Dimana saat musim kemarau pun tebu masih bisa berkembang dan tumbuh baik. Sehingga produksi tebu bisa dioptimalkan," paparnya.

Selain tebu, lanjut Bambang, Indonesia juga sudah mempunyai jagung biotek yang diproduksi oleh perusahaan multinasional. Jagung tersebut sudah aman dikonsumsi dan pakan serta aman untuk lingkungan. Pengembangan benih jagung biotek yang dilakukan untuk mensuport pemerintah dengan program swasembada jagung dan meningkatkan ekspor benih jagung.

“Jagung biotek dapat meningkatkan produksi lebih dan pengembangannya sangat cocok dengan karakteristik Indonesia. Dengan adanya tanaman biotek, diharapkan petani punya pilihan guna kemakmuran pertanian organik. Biotek atau transgenik merupakan teknologi modern yang mampu meningkatkan pendapatan petani,” imbuhnya.

Sementara itu, Paul S. Teng, Ketua Dewan Direksi The International Service for The Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) menambahkan, apalagi setiap tahunnya penduduk Indonesia terus bertambah sehingga kebutuhan pangan terus meningkat. Tapi luas lahan semakin berkurang akibat dari konversi lahan yang terus berlanjut.

“Untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut suka tidak suka harus menggunakan tanaman bioteknologi. Karena tanaman biotel tidak hanya dapat meningkatkan produksi di tengah terbatasnya lahan, tapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani. Selain itu, tanaman biotek juga memberikan manfaat yang cukup besar bagi lingkungan, kesehatan manusia dan hewan,” katanya.

Alhasil, ujar Paul lagi, penggunaan tanaman bioteknologi meningkat sebesar 3 peren pada tahun 2017 lalu atau setara dengan 4,7 juta hektar. Peningkatan ini disebabkan oleh profitabilitas yang lebih besar dan berasal dari harga komoditas yang tinggi. Tidak hanya itu, ada juga permintaan pasar baik dari dalam ataupun luar negeri meningkat. Maka, seara otomatis permintaaan benih bioteknologi pun ikut meningkat.

“Terbukti, saat ini sudah ada 19 negara yang mengguanakan benih bioteknologi. Di antaranya India, Pakistan, Brazil, Bolivia, Sudan Meksiko, Kolombia, Vietnam Honduras dan Bangladesh. Hal inilah yang mendorong petani untuk mengadopsi bioteknologi bagi produksi pangan. Jadi memang beberapa tahun terakhir ini luasan areal tanaman bioteknologi di negera-negara berkembang mencapai 53 persen dari total keseluruhan area tanaman bioteknologi,” ucap Paul.

Pada kesempatan yang sama, Direktur PG Economics, Graham Brookes, menyatakan, di tahun 1996-2016 tanaman bioteknologi telah menghasilkan keuntungan sebesar USD186,1 miliar bagi sekitar 17 petani. Sehingga banyak pelaku pertanian yang mulai beralih menggunakan tanaman bioteknologi. Ini karena tidak sedikit pelaku pertanian saat ini adalah perempuan dan hanya memiliki lahan yang cukup kecil.

“Oleh sebab itu, petani berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ditengah keterbatasan lahan. Disisi lain, penggunaan bioteknologi bisa menjawab kerawanan pangan global yang kini telah menjadi masalah besar bagi negara-negara berkembang. Bahkan, ada sekitar 108 juta orang yang hidup di negara-negara yang terkena dampak krisis pangan dan beresiko mengalami kerawanan pangan,” tutupnya.