Geoteknologi LIPI: Tol Purbaleunyi Tak Perhatikan Geologi

Ahli Geoteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adrin Tohari mengatakan, pergeseran tanah yang terjadi di tiang P2 Jembatan Cisomang, Tol Purbaleunyi, Jawa Barat, terjadi akibat tidak ada antisipasi terhadap jenis tanah dasar di wilayah tersebut.

"Dataran di situ kan berjenis batu lempung yang mudah sekali mengalami kembang-susut. Ketika terpengaruh air hujan atau panas, dia akan mengembang," kata Adrin kepada pers, Selasa (27/12).

Menurut Adrin, pengaruh sifat kembang-susut dari batu lempung itulah yang kemudian memengaruhi permukaan tanah, sehingga membuatnya mudah bergerak. "Pergerakan itulah yang mendorong bor penopang dari jembatan itu untuk kemudian bergeser," kata Adrin.

Adrin menjelaskan, jenis batu lempung itu mengandung Montmorillonit, yakni mineral lempung yang sangat sensitif terhadap air."Jadi jika tercampur air akan mengembang, dan jika panas akan menyusut. Hal itu akan mempengaruhi daya dukung dari batuan dasar fondasi Jembatan Cisomang," kata Adrin.

Adrin menjelaskan, jenis batu lempung ini juga terdapat di sejumlah ruas Tol Purbaleunyi, sehingga masalah seperti yang terjadi pada fondasi Jembatan Cisomang juga berpotensi terjadi di sejumlah bagian lainnya.

Adrin menilai, mungkin saja hal ini luput diperhatikan oleh para pengembang pembangunan ruas-ruas jalan tol tersebut, karena kurangnya studi mendalam terkait masalah geologi.

"Contohnya di kilometer 90 Tol Purbaleunyi. Di sana itu juga sering dipasang tiang bor karena batuannya sama. Lereng itu sering bergerak dan sering patah, makanya diperkuat tiang bor," kata Adrin.

Adrin memperkirakan pengembang tidak mengetahui masalah geologi. Karena memang investigasi konstruksi kurang memahami soal geologi tersebut. “Tanah lempung itu keras tapi sensitif dengan air dan panas. Mungkin mereka kurang memperhatikan masalah ini saat memulai pembangunan," pungkas Adrin.