Eva Sundari: Ada Skenario Mega-Jokowi, atau Jokowi dengan Koalisi

Sejumlah partai politik telah mendeklarasikan calon presiden (Capres) yang akan mereka usung pada pemilihan Presiden mendatang. Yang lain, tengah memulai proses konvensi untuk menentukan capres pilihan. Tapi, Partai Demokrat Indonesia Perjuangan (PDIP). Hingga saat ini, kandidat Capres yang akan diusung partai itu, masih terkunci rapat ditangan Ketua Umumnya, Megawati Soekarnoputri.

Yang berkembang dalam wacana publik saat ini, ada 2 nama kuat yang digadangkan sebagai kandidat kuat Capres dari internal PDIP. Pertama, kader PDIP yang juga Gubernur Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dan Ketum PDIP sendiri, Megawati.

Wakil Ketua Fraksi PDIP di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Eva Kusuma Sundari, mengakui, adanya perbedaan pendapat soal kandidat capres dan cawapres antara Megawati atau Jokowi di kalangan internal partainya. Namun, perbedaan ini bukan sebuah perpecahan dan masih dalam batas prosedur yang wajar. Perbedaan ini tidak sampai memicu konflik di internal PDIP.

“Kami tidak bisa membantah adanya fakta bahwa ada 2 nama yang muncul sebagai kandidat Capres PDIP di Pemilu kali ini. Kalangan elite PDIP masih menginginkan Megawati untuk maju, karena dinilai punya pengalaman yang tak diragukan lagi. Sementara ditingkat akar rumput, ingin Jokowi yang dimajukan sebagai Capres," ujar perempuan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, 8 Oktober 1965 ini kepada politikindonesia.com, di Jakarta, Rabu (12/03).

Kepada Elva Setyaningrum, lulusan Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tahun 1991 ini mengemukakan alasan partainya belum mengumumkan capresnya hingga saat ini. Anggota Komisi Hukum DPR ini mengungkapkan rencana partainya mendeklarasikan capres, siapa kandidat yang kemungkinan diusung, termasuk peluang Puan Maharani. Berikut wawancaranya.

Mengapa PDIP belum mengumumkan Capres hingga saat ini?

Sebenarnya kami sudah membahas beberapa skenario Capres dan Cawapres yang akan diusung pada Pilpres 2014 mendatang. Skenario pertama, kami sudah ada 2 nama di internal yang akan dipasangkan sebagai capres dan cawapres.

Skenario kedua, jika suara PDIP di Pemilu Legislatif (pileg) 2014 tidak cukup untuk mengusung pasangan capres-cawapres sendiri, maka Jokowi akan dipasangkan dengan cawapres dari partai koalisi. Skenario tersebut sangat bergantung pada hasil pemilu legislatif (Pileg).

Oleh karena itu, untuk bisa menentukan Capres ataupun Cawapres, kami masih menunggu hingga proses pemilu selesai.

Dalam UU Pilpres, persyaratan ambang batas Presiden ialah 20 persen perolehan kursi DPR atau 25 persen perolehan suara sah nasional. Kalau memang harus berkoalisi, kami ingin berkoalisi dengan partai yang mempunyai visi dan misi serupa dengan PDIP. Oleh karena itu, kami telah menjalin komunikasi dengan beberapa pimpinan partai. Di antaranya Nasdem, PKPI, PAN dan PPP.

Kapan rencana PDIP mendeklarasikan capres dan cawapres?

Kami baru akan memutuskan Capres dan Cawapres setelah pileg 2014, tepatnya pada April mendatang. Ketua Umum Megawati selaku pemegang mandat kongres akan cermat dalam memutuskan Capres dan Cawapres dari PDIP.

Megawati sangat berhati-hati dan selalu mencermati perkembangan setiap gelagat dinamika politik nasional dan internasional. Tetapi, saya juga tidak tahu keputusan apa yang akan diambil Megawati setelah pileg nanti. Mungkin saja Capres-Cawapres dari PDIP adalah Megawati-Jokowi atau Jokowi dengan tokoh lain.

Mengapa PDIP mendeklarasikan capresnya setelah pileg 2014?

Bagi PDIP, itu merupakan hal yang biasa, menentukan capres dalam waktu-waktu terakhir. Pada pemilu 2004 dan 2009, PDIP juga menentukan Capres setelah Pileg. Kalau dirunut ke belakang, 2004 jelas kongres menyatakan calonnya Megawati, begitu juga 2009.

Hal itu juga akan terjadi pada pilpres tahun ini. Karena perlu kesabaran revolusioner dalam mengambil keputusan yang tepat untuk bangsa ini. Kita memilih Presiden dan memilih pemimpin nasional NKRI yang besar yang berdaulat perlu hati-hati dan perlu cermat. Demikian pula, PDIP. ingin cermat juga dalam memilih pemimpin bangsa ini. Bukan sekedar memilih capres tapi memilih pemimpin bangsa.

Menurut Anda dari 2 nama Capres tersebut, siapa yang akan diusung PDIP?

Sesungguhnya nama Capres yang benar-benar akan kami diusung, murni ada ditangan Megawati. Jika Bu Mega sudah memutuskan, tidak ada lagi yang membantah. Pasti semuanya manut.

Toh, deklarasi capres PDIP sebentar lagi akan digelar, kaerna Pileg tinggal menghitung hari. Tapi, memang sudah mengerucut pada 2 nama tersebut. Karena kedua sosok tersebut, merupakan kader terbaik partai yang memiliki elektabilitas tinggi di mata calon pemilih. Terbukti, dari berbagai survei nama Megawati dan Jokowi selalu unggul dibanding para calon lain di luar PDIP.

Apakah ada penolakan dengan munculnya nama Jokowi sebagai capres?

Dinamika penolakan dan menerima Jokowi sebagai Capres di internal kami, pasti ada. Jadi tidak mungkin searah. Bahkan, ada wacana kanan- kiri, depan-belakang. Itulah politik. Tapi peluang Jokowi cukup besar karena dia adalah salah satu kader PDIP yang hari-hari ini namanya muncul jadi perbincangan.

Bagaimana dengan peluang Puan Maharani sebagai Capres?

Memang ada pendukung Puan di internal kami. Tapi bukan kubu, melainkan kelompok untuk tugas dan fungsi menjalankan roda partai. Jadi wajar dalam partai ada kelompok-kelompok seperti itu. Basisnya tidak pada ideologis, tapi sosiologis.