Cuaca Ekstrim NTT, Warga Diminta Waspada

Warga Nusa Tenggara Timur diminta mewaspadai ancaman puting beliung disertai hujan dan petir, banjir, serta tanah longsor. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, fenomena alam itu setiap saat dapat terjadi akibat cuaca ekstrem.

"Peluang puting beliung dapat terjadi yang sulit diprediksi kapan dan dimana. Karena itu, sebaiknya sejak dini masyarakat perlu mewaspadai hal tersebut," kata Kepala Stasiun Klimatologi Klas II Lasiana Kupang, Purwanto, di Kupang, Selasa (11/01).

Intensitas hujan sedang meningkat untuk wilayah Nusa Tenggara Timur. BMKG menyebutkan, ini terjadi karena fenomena La Nina (basah) dan moderat disertai angin barat yang sangat dominan. Semua itu membuat potensi hujan-angin berpeluang terjadi bekalangan ini.

Menurut Purwanto, intensitas hujan rata-rata 150-300 mm itu sangat rentan terjadi banjir dan tanah longsor. Kondisi itu berdampak langsung pada tanaman dan akses transportasi yang terhambat. Karena angin kencang dan rusaknya infrastruktur jalan, serta jembatan.

Berdasarkan peta daerah rawan bencana, BMKG mencatat Pulau Flores, Sumba dan Timor, daerah sangat rentan terjadi banjir dan tanah longsor. Ini akan mengakibatkan infrastruktur rusak, sehingga masyarakat perlu mewaspadainya.

Meskipun demikian kata Purwanto hingga saat ini belum ada laporan tentang adanya bencana itu. Namun tetap harus diwaspadai. Semua pihak, kata dia, harus dalam posisi siaga pada musim cuaca ekstrim ini. Dengan begitu, jika terjadi puting beliung, banjir dan tanah longsor, dapat mengurangi dampaknya apalagi hingga mengancam jiwa.

Purwanto menyebut dampak lain dari cuaca ekstrim ini, akhir pekan lalu, Bandara El Tari, Kupang, sempat ditutup selama empat jam. Yaitu pukul 08.40 - 12.30 Wita. Selama itu enam maskapai penerbangan yang akan mendarat maupun terbang dari bandara tersebut terpaksa menunda. Sebagian mendarat di bandara terdekat atau kembali ke bandara semula.

Penutupan dilakukan karena cuaca buruk membuat awan cukup tebal, hingga jarak pandang penerbangan pada bandara tersebut hanya 200 meter. Biasanya mencapai 1000 meter atau 1 km. Purwanto memastikan, jarak pandang sejauh itu, sangat membahayakan keselamatan penerbangan.

Di bidang perhubungan laut, PT Indonesia Feryy Cabang Kupang, Nusa Tenggara Timur, menghentikan sementara pelayaran ke semua lintasan di provinsi kepulauan itu. Tindakan itu dilakukan, juga akibat cuaca tidak bersahabat di wilayah perairan tersebut, sejak dua hari terakhir ini.

Semua lintasan pelayaran Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Feri sementara ini ditutup hingga 13 Januari. Pasalnya, hujan deras yang terus turun di wilayah NTT menyebabkan gelombang laut tinggi. Terutama di Selat Rote dan Laut Sawu selama beberapa hari ke depan.