Batan Fokus Pada Hilirisasi Iptek Nuklir

Bagi sebagian masyarakat, tenlokogi nuklir masih menjadi momok menakutkan. Namun di balik itu, nuklir mempunyai segudang manfaat yang dapat memberikan solusi di berbagai sektor kehidupan.

Pemanfaatan teknologi nuklir di sektor pertanian dan kesehatan terbilang sudah dapat diterima oleh masyarakat. Selain dua sektor tersebut, nuklir punya potensi banyak untuk dimanfaatkan.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan dalam Rencana Strategis (Renstra) tahun 2015-2019 Batan, pemanfaatan teknologi nuklir ditujukan untuk mewujudkan visi yakni unggul di tingkat regional dalam percepatan kesejahteraan menuju kemandirian bangsa. Sementara itu, pada Renstra Batan tahun 2020-2024, ingin mengadirkan nuklir untuk masyarakat Indonesia.

“Bertepatan dengan ulang tahun Batan ke– 60, kami akan fokus pada hilirisasi iptek nuklir. Kami juga ingin memberi arahan, bagaimana teknologi nuklir bisa ikut menyelesaikan masalah di tengah masyarakat,” katanya pada Rapat Kerja (Raker) BATAN 2018, di Sentul, Bogor, Rabu (14/03).

Menurutnya, hilirisasi yang dimaksud, salah satu contohnya dengan memanfaatkan Betatron. Yaitu, salah satu alat di bidang uji tak merusak. Alat tersebut dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan pembangunan infrastrukur yang belakangan kerap terjadi di Indonesia, seperti pembangunan jalan layang, gedung bertingkat.

“Alat yang dibeli seharga Rp3 miliar pada tahun lalu itu bisa mendeteksi adanya keretakan atau kerusakan pada material yang diuji tanpa perlu membongkar material tersebut. Makanya, pada tahun ini, kami ingin lebih pro aktif dalam menawarkan produk teknologi nuklir di berbagai pihak termasuk BUMN dan swasta,” ujarnya.

Diakuinya, upaya hilirisasi yang dilakukan tidak semulus yang diharapkan. Salah satu kendala memanfaatkan teknologi nuklir terletak pada proses perizinan. Selain itu, paraboid akan keselamatan menggunakan teknologi nuklir rupanya tidak hanya melanda masyarakat. Ketakutan itu juga melanda pihak Badan Pengawas di seluruh dunia. Salah satunya dengan memperketat proses perizinan pasca kecelakaan reaktor nuklir Fukushima Daiichi.

“Mestinya Betatron yang dibeli mahal itu bisa langsung dimanfaatkan masyarakat, entah dengan mekanisme penerimaan negara bukan pajak atau bahkan gratis. Namun, tantangan itu ada pada proses perizinan. Bisa jadi, belum ada aturannya, jadi harus buat dulu. Karena terlalu lama, keburu banyak bangunan yang retak,” tegasnya.

Dijelaskan, dengan total anggaran di tahun ini sekitar Rp860 miliar, pihak tetap ingin berusaha memperluas cakupan wilayah aplikasi teknologi nuklir di bidang pertanian. Karena saat ini masih menjakau di 20 daerah, baik kabupaten maupun provinsi. Apalagi dengan anggaran sekitar Ro75 jura per daerah, belum tentu bisa menjangkau semua seluruh wilayah di Indonesia.

“Pagu anggaran yang kami miliki ini terbilang kecil untuk m setingkat Kementerian/Lembaga. Apalagi kami juga ingin memperluas cakupan luasan wilayah aplikasi teknologi nuklir di bidang pertanian. Oleh sebab itu, kami memiliki ide untuk menggunakan sistem demplot. Artinya, masyarakat bisa mengembangkan sendiri benih unggul yang kami berikan sehingga hasilnya bisa dinikmati di banyak daerah,” paparnya.

Bidang lain lanjutnya, yang juga menjadi perhatian masyarakat yakni pemanfaatan teknologi nuklir untuk magnet, baterai dan pembuatan radiofarmaka. Bahkan, negara Afrika dan Timur Tengah tertarik memafaatkan produk radioisotop dan radiofarmaka miliknya. Untuk itu, pihaknya menggandeng PT. Kimia Farma dan PT. Inuki agar produk tersebut dapat dipasarkan secara masif. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan nasional dan luar negeri.

Untuk menghilirkan produk nuklir memang perlu menggandeng pihak lainnya karena posisi kami sebagai penyedia teknologi memiliki kapasitas pengembangan nuklir untuk menghasilkan prototipe, paket teknologi dan karya tulis ilmiah.

“Alat kami punya, tapi skala lab. Makanya kami perlu menggandeng pihak swasta, baik menyebarkannya secara masif dan mengajak mereka terlibat, misalnya dalam membangun fasilitas nuklir, seperti Iradiator Gamma,” pungkasnya.