Banjir Dahysat di Jepang, 94 Tewas, 58 Hilang

Hujan lebat dalam sepekan terakhir telah memicu banjir bandang hebat dan tanah longsor di wilayah Prefektur Okayama dan Hiroshima, Jepang. Bencana ini dilaporkan menyebabkan 100 orang tewas dan 58 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Pemerintah menyatakan perintah evakuasi terhadap dua juta penduduk yang tinggal di bagian tengah dan barat negara itu. Sementara, petugas penyelamat masih berjuang menggali timbunan lumpur dan puing-puing untuk mencari korban.

Seperti dilansir Reuters, Senin (09/07), banjir ini dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah Jepang bagian barat sejak pekan lalu. Selain banjir, hujan lebat juga memicu tanah longsor di sejumlah area.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada Minggu (08/07), mengatakan, upaya untuk menyelamatkan korban banjir akan berpacu dengan dengan waktu, mengingat adanya peringatan terbaru tentang hujan lebat.

“Menyelamatkan jiwa dan evakuasi merupakan hal yang akan berpacu dengan waktu. Masih banyak orang yang belum dikonfirmasi tentang keamanannya," ujar dia.

Wilayah terparah yang terdampak bencana ini, ada di Hiroshima, Ehime, Okayama, Kyoto, dan area lainnya. Desa-desa terendam banjir dengan hanya bagian atas lampu lalu lintas yang terlihat.

Juru bicara utama pemerintah Yoshihide Suga mengatakan, jumlah korban tewas diperkirakan akan bertambah, menyusul laporan bahwa puluhan orang masih dinyatakan hilang.

Perintah evakuasi terhadap 2 juta orang untuk mengungsi tidak sepenuhnya diikuti penduduk. Banyak yang tetap bertahan di dalam rumah sehingga membuat mereka terjebak oleh air yang naik secara cepat dan tanah longsor yang tiba-tiba.

Banjir ini menyebabkan aliran listrik terhadap 12.700 pelanggan terputus sejak hingga Senin (90/70) ini. Sedangkan puluhan ribu orang lainnya tidak mendapat suplai air bersih.

Hingga Senin (9/7) ini, banjir mulai surut meskipun genangan air masih memenuhi wilayah Kurashiki, Okayama, yang terdampak banjir paling parah. Ribuan orang memenuhi kamp pengungsian di Mabi, salah satu distrik di Kurashiki, Okayama.

Kantor Perdana Menteri Jepang telah mendirikan pusat penanggulangan darurat, dengan sekitar 54 ribu petugas penyelamat yang terdiri atas personel militer, kepolisian dan petugas pemadam kebakaran, dikerahkan ke berbagai wilayah yang dilanda banjir dan longsor.