Bahas Sindikat Paspor, Patrialis Ketemu Ito

Pemerintah terus bekerja menuntaskan kasus paspor palsu Gayus. Hari ini, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar bertemu Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi, membahas pengusutan kasus paspor palsu atas nama Sony Laksono, yang digunakan Gayus ke luar negeri.

Kasubag Hubungan Pers dan Media, Kementerian Hukum dan HAM, Robi Leo, Jumat (14/01).

Seperti diketahui, Gayus, terdakwa kasus mafia pajak pelesiran ke luar negeri. Sejumlah negara yang disambangi eks pegawai Ditjen Pajak itu, antara lain Singapura, Makau, Malaysia, China, Hongkong, dan Thailand.

Sebelumnya, Gayus juga sempat pelesiran ke Bali menyaksikan turnamen tenis internasional. Semua dilakukan bersama sang istri, Milana Anggraeni.

Untuk kepentingan itu, Gayus disebut-sebut menggunakan paspor palsu dengan nama Sony Laksono. Dalam foto paspor, Gayus mengenakan rambut palsu (wig) dan kacamata persis seperti saat nonton tenis di Bali.

Patrialis Akbar memastikan paspor atas nama Sony Laksono itu, palsu. Kabarnya, ada sindikat yang terlibat dalam pembuatan paspor yang digunakan Gayus itu. Itulah yang saat ini dalam penyelidikan intensif.

Biaya pembuatan paspor itu, tentu tidak murah. Ada yang menyebutkan, US$100 ribu, Rp900 juga. Tetapi, pihak pengacara Gayus, Hotma Sitompul, memastikan biaya pembuatan paspor itu hanya Rp200 juta.

Dari penyelidikan sementara diketahui, ada beberapa kejanggalan terlihat pada paspor atas nama Sony Laksono itu. Paspor bernomor registrasi 1A11JC4639-JRT itu terdaftar di Kantor Imigrasi Jakarta Timur.

Seorang petugas Kantor Imigrasi Jakarta Timur mengatakan, kejanggalan teknis terlihat dari foto dan nomor registrasi paspor 1A11JC4639-JRT. Foto paspor tak ada yang menggunakan kacamata. Jadi, sebelum difoto harus dilepas. Bahkan, sebelumnya pemakaian jilbab pun tak diperkenankan. Sekarang hanya kacamata yang tak boleh dipakai dalam foto paspor.

Di paspor Gayus tercatat nomor Angka 4639. Itu tak mungkin jika dibuat pada 5 Januari 2010. Karena setiap awal tahun nomor registrasi akan dimulai dari 0000. Jadi, kalau Januari 2010, nomor registrasi baru sampai ratusan, tidak mungkin sudah mencapai empat ribuan lebih.