PM Israel Marah kepada Obama, Ini Penyebabnya

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengkritik pedas pemerintahan Presiden Amerika Serikat Barack Obama setelah mereka membuat keputusan yang dianggap "memalukan" Israel.

AS tidak memberikan hak veto atau abstain dalam Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuntut diakhirinya pembangunan permukiman Yahudi oleh Israel di Tepi Barat.

Hal inilah yang membuat Netanyahu marah kepada Pemerintah AS dan menyebut itu sebagai keputusan “luar biasa” bagi AS. Akibatnya, Netanyahu mengancam bakal meninjau ulang kembali hubungan mesranya dengan AS seiring dengan akan berakhirnya masa kepemimpinan Obama.

Netanyahu juga menyerukan kepada seluruh warga Israel yang menggambarkan resolusi antipermukiman Yahudi ini sebagai tantangan bagi kedaulatan Israel, dengan mengklaim seluruh Yerusalem.

"Saya tidak berencana untuk berada di sini. Tetapi mengingat (keluarnya) Resolusi PBB, maka saya berpikir bahwa tidak ada tempat yang lebih baik untuk menyalakan lilin kedua (perayaan) Hanukkah dari Western Wall," kata Netanyahu, dikutip situs Reuters, Selasa (27/12).

"Saya juga bertanya kepada beberapa negara yang memberikan ucapan selamat atas perayaan Hanukkah, bagaimana bisa mereka memberikan suaranya untuk memvoting Resolusi PBB dan mengatakan negara kita di tanah ini adalah wilayah jajahan," kata Netanyahu.

Netanyahu saat ini gencar melakukan pendekatan intensif dengan Presiden AS terpilih, Donald Trump, agar mau memberikan paket bantuan militer kepada Israel sebesar US$38 miliar.

Dalam cuitannya di akun Twitter, Trump mengaku sedih dengan hasil Resolusi DK PBB tersebut. "PBB memiliki potensi besar. Tapi sekarang mereka (PBB) hanyalah sebuah klub tempat orang-orang berkumpul, bercengkerama dan menyia-nyiakan waktu. Sedih saya jadinya!" ujar Trump.

Trump berjanji untuk mengembalikan kebijakan AS dengan memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem dari Tel Aviv.

Sebelumnya, Selandia Baru, Venezuela, Senegal dan Malaysia, telah menolak aneksasi Israel atas wilayah Tepi Barat. Alhasil, resolusi menghasilkan 14 suara menolak menyusul abstainnya AS yang tidak menggunakan hak vetonya.

Hal ini dinilai sebagai “hadiah perpisahan” Obama untuk Netanyahu. Sebanyak 570.000 warga Israel hidup di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Palestina sudah lama menginginkan kebebasan untuk kedua daerah itu.