
Irene Manibuy (Ist)
Artikel Terkait:
2010-07-21 12:51:03Irene Manibuy: Jangan Tunda Lagi Pemekaran Manokwari
Politikindonesia - Rencana pemekaran Kabupaten Manokwari, di Papua Barat menjadi dua kabupaten yakni Manokwari Selatan dan Pegunungan Arvak yang diajukan sejak 2006, sudah saatnya direalisasikan. Pasalnya, penundaan itu sudah terlalu lama dan sangat meresahkan. Jika tak segera disikapi, dikhawatirkan akan menimbulkan resistensi bagi NKRI.
Ungkapan itu disampaikan Irene Manibuy SH, Anggota Komisi XI DPR kepada politikindonesia.com, Senin (19/07). Perempuan kelahiran Teluk Bintuni, 19 Februari 1962 itu mengatakan, salah satu upaya mensejahterakan masyarakat di Papua Barat, hanya bisa dicapai jika Pemerintah dan DPR segera merealisasikan pemekaran dimaksud.
Argumennya, dengan pemekaran maka akan memperpendek rentang kendali pemerintahan untuk dapat melayani masyarakat yang tinggal di pegunungan. Apalagi jika mengingat potensi kekayaan alam di dua kabupaten yang akan dimekarkan itu, cukup menjanjikan.
Mengapa anggota Kaukus Parlemen Papua itu begitu antusias mendorong pemekaran di Kabupaten Manokwari tersebut? Mengapa penundaannya begitu lama? Kepada Sapto Adiwiloso dari politikindonesia.com, politisi perempuan Partai Golkar tersebut mengungkapkan pendapatnya dalam sebuah wawancara di Gedung Parlemen, Senin (19/07). Berikut petikannya.
Menurut anda apa alasan penundaan pemekaran di Kabupaten Manokwari yang dirintis sejak 2006 itu?
Mungkin keterlambatan itu karena kurangnya komunikasi antara mereka yang ada di pusat dan daerah. Bisa juga disebabkan keterwakilan kami yang ada di parlemen saat itu, kurang tanggap terhadap aspirasi masyarakat. Karena itu, kami dari Kaukus Parlemen Papua, sekarang mendorong percepatannya. Sudah terlalu lama masyarakat di sana berharap segera disetujuinya pemekaran itu. Kami akan terus mengawal usulan pemekaran ini, hingga DPR dan Pemerintah, dapat menyetujuinya.
Mengapa Kaukus Parlemen Papua begitu antusias?
Saya selaku perwakilan dari Papua Barat, begitu mendukung aspirasi masyarakat dalam rangka mempercepat pemekaran di Kabupaten Pegunungan Arvak dan Manokwari Selatan.
Alasan saya, pertama, desakan masyarakat. Sebelumnya, ada empat kabupaten di Papua Barat yang diusulkan untuk dimekarkan. Dua kabupaten yakni Tamarau dan Meibrat, sudah terlebih dahulu dimekarkan pada periode lalu. Tinggal Pegunungan Arvak dan Monokwari Selatan.
Alasan kedua, merebaknya keresahan masyarakat. Kalau tidak segera dimekarkan, masyarakat akan bertambah resah. Intinya, mereka tidak akan sejahtera. Kalau tidak sejahtera, mereka berpikir bahwa merdeka adalah satu-satunya jawaban.
Karena itu dalam wadah kesatuan NKRI, kita harus cepat membaca nuansa-nuansa semacam itu. Agar bisa meredam kondisi-kondisi atau nuansa seperti itu. Sebab, kalau sudah sejahtera tidak punya pemikiran sampai ke sana. Itu saya yakin dan percaya.
Saya lahir dan besar di sana jadi saya tahu persis hal itu. Dengan pemekaran maka akan mempercepat upaya mensejahterakan masyarakat, memperpendek rentang kendali pemerintahan, untuk dapat melayani mereka yang ada di pegunungan.
Bupati Manokwari sendiri sangat mendukung pemekaran di wilayahnya, komentar anda?
Saya salut dengan Bupati Manokwari, Drs.Dominggus Mandacan yang turun sendiri memperjuangkan pemekaran di wilayahnya. Jarang ada, bupati yang rela wilayahnya dimekarkan. Tak hanya Bupati Monokwari yang datang ke Komisi II DPR memperjuangkan hal itu, tetapi juga DPRD Manokwari, DPRD Papua Barat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan sebagainya. Ini semua menunjukkan bahwa pemekaran di Kabupaten Manokwari benar-benar dikehendaki oleh masyarakat. Jadi bukan karena ada kepentingan segelintir elit politik.
Secara administratif, semua persyaratan juga sudah dipenuhi. Karena itu menurut saya, tidak ada alasan lagi, untuk menunda pemekaran di Kabupaten Manokwari tersebut.
Bagaimana dengan Kabupaten Tamarau dan Meibrat yang sudah dimekarkan. Apa sudah ada kemajuan?
Dua kabupaten yang sudah dimekarkan itu kan baru satu tahun umurnya. Jadi memang belum maksimal. Tapi apakah dengan dasar itu kita harus moratorium dan ditunda? Kasihlah kesempatan buat Kabupaten Manokwari juga.
Bagaimana dengan infrastruktur di Manokwari Selatan dan Pegunungan Arvak?
Infrastruktur penunjang untuk Manokwari Selatan sudah sangat memadai. Jadi begitu mau masuk pemekaran ibaratnya sudah tidak melahirkan anak bayi lagi. Tetapi tinggal membangun sarana dan prasarana guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar pembangunan di sana bisa dipercepat. Karena sebelumnya penduduk daerah ini berada di pegunungan yang sulit dijangkau karena masih minimnya infrastuktur jalan.
Potensinya sendiri seperti apa?
Untuk Manokwari Selatan, ada tambang yang bisa digali. Untuk pertanian juga ada. Kalau di distrik Ransiki, calon Ibukota Manokwari Selatan itu, sebelumnya ada perkebunan coklat yang sangat luas. Karena itu jika sudah dimekarkan, tinggal meningkatkan potensinya saja. Sedang untuk pegunungan Arvak bisa diandalkan pariwisatanya. Di sana ada danau laki-laki dan danau perempuan. Sedang di bagian atas, ada tambang uranium.
Pemekaran daerah ideal dilakukan di Papua dan Papua Barat, komentar anda?
Memang kalau dari segi geografis sangat diperlukan pemekaran di sana. Tetapi dalam pemekaran kita harus duduk bersama. Antara masyarakat, pemerintah, DPR baik di pusat maupun di daerah. Kita buka kondisi di wilayah. Kita bagi sesuai dengan grand design. Jadi jangan asal mengusulkan saja. Karena alasan pemekaran hanya asal-asalan, saya lihat kurang tepat juga.
Apa harapan anda untuk pemekaran di Kabupaten Manokwari?
Masyarakat harus sejahtera dulu. Kalau sudah sejahtera lahir dan batin, maka pembangunan dapat terus ditingkatkan. Jauh dari konflik-konflik sosial. Keutuhan NKRI pun dapat terus terjaga.
Saya melihat pemekaran kabupaten lain yang sudah berjalan selama lima tahun, hal itu bisa diwujudkan. Jadi pembangunan sarana-prasarana, infrasturktur dan sebagainya, nyatanya juga pesat. Memang, saya pun tak menutup mata akan gagalnya daerah otonom baru, hasil pemekaran. Tetapi hal itu jangan menjadi alasan untuk terus menunda-nunda pemekaran di Kabupaten Manokwari yang telah diusulkan sejak lama.
Dengan menjawab pemekaran di kedua kabupaten tersebut, maka diharapkan kesejahteraan akan lebih bagus, pembangunan bisa ditingkatkan sehingga masyarakat tidak akan menuntut merdeka. Kalaupun mereka menghendaki adanya kemerdekaan, yang saya inginkan merdeka dari kemiskinan dan kebodohan.
Biodata Singkat:
Nama : Irene Manibuy SH
Tempat/Tgl lahir : Teluk Bintuni, 19 Februari 1962
Partai : Golongan Karya
Dapil : Papua Barat
Pendidikan : Sarjana Hukum Universitas Airlangga, Surabaya
Suami : Vincent C. Queipo
Anak : 2 orang
Perolehan Suara : 45.790 (52,7 persen) BPP: 86.964
(Sapto Adiwiloso/yk) Ungkapan itu disampaikan Irene Manibuy SH, Anggota Komisi XI DPR kepada politikindonesia.com, Senin (19/07). Perempuan kelahiran Teluk Bintuni, 19 Februari 1962 itu mengatakan, salah satu upaya mensejahterakan masyarakat di Papua Barat, hanya bisa dicapai jika Pemerintah dan DPR segera merealisasikan pemekaran dimaksud.
Argumennya, dengan pemekaran maka akan memperpendek rentang kendali pemerintahan untuk dapat melayani masyarakat yang tinggal di pegunungan. Apalagi jika mengingat potensi kekayaan alam di dua kabupaten yang akan dimekarkan itu, cukup menjanjikan.
Mengapa anggota Kaukus Parlemen Papua itu begitu antusias mendorong pemekaran di Kabupaten Manokwari tersebut? Mengapa penundaannya begitu lama? Kepada Sapto Adiwiloso dari politikindonesia.com, politisi perempuan Partai Golkar tersebut mengungkapkan pendapatnya dalam sebuah wawancara di Gedung Parlemen, Senin (19/07). Berikut petikannya.
Menurut anda apa alasan penundaan pemekaran di Kabupaten Manokwari yang dirintis sejak 2006 itu?
Mungkin keterlambatan itu karena kurangnya komunikasi antara mereka yang ada di pusat dan daerah. Bisa juga disebabkan keterwakilan kami yang ada di parlemen saat itu, kurang tanggap terhadap aspirasi masyarakat. Karena itu, kami dari Kaukus Parlemen Papua, sekarang mendorong percepatannya. Sudah terlalu lama masyarakat di sana berharap segera disetujuinya pemekaran itu. Kami akan terus mengawal usulan pemekaran ini, hingga DPR dan Pemerintah, dapat menyetujuinya.
Mengapa Kaukus Parlemen Papua begitu antusias?
Saya selaku perwakilan dari Papua Barat, begitu mendukung aspirasi masyarakat dalam rangka mempercepat pemekaran di Kabupaten Pegunungan Arvak dan Manokwari Selatan.
Alasan saya, pertama, desakan masyarakat. Sebelumnya, ada empat kabupaten di Papua Barat yang diusulkan untuk dimekarkan. Dua kabupaten yakni Tamarau dan Meibrat, sudah terlebih dahulu dimekarkan pada periode lalu. Tinggal Pegunungan Arvak dan Monokwari Selatan.
Alasan kedua, merebaknya keresahan masyarakat. Kalau tidak segera dimekarkan, masyarakat akan bertambah resah. Intinya, mereka tidak akan sejahtera. Kalau tidak sejahtera, mereka berpikir bahwa merdeka adalah satu-satunya jawaban.
Karena itu dalam wadah kesatuan NKRI, kita harus cepat membaca nuansa-nuansa semacam itu. Agar bisa meredam kondisi-kondisi atau nuansa seperti itu. Sebab, kalau sudah sejahtera tidak punya pemikiran sampai ke sana. Itu saya yakin dan percaya.
Saya lahir dan besar di sana jadi saya tahu persis hal itu. Dengan pemekaran maka akan mempercepat upaya mensejahterakan masyarakat, memperpendek rentang kendali pemerintahan, untuk dapat melayani mereka yang ada di pegunungan.
Bupati Manokwari sendiri sangat mendukung pemekaran di wilayahnya, komentar anda?
Saya salut dengan Bupati Manokwari, Drs.Dominggus Mandacan yang turun sendiri memperjuangkan pemekaran di wilayahnya. Jarang ada, bupati yang rela wilayahnya dimekarkan. Tak hanya Bupati Monokwari yang datang ke Komisi II DPR memperjuangkan hal itu, tetapi juga DPRD Manokwari, DPRD Papua Barat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan sebagainya. Ini semua menunjukkan bahwa pemekaran di Kabupaten Manokwari benar-benar dikehendaki oleh masyarakat. Jadi bukan karena ada kepentingan segelintir elit politik.
Secara administratif, semua persyaratan juga sudah dipenuhi. Karena itu menurut saya, tidak ada alasan lagi, untuk menunda pemekaran di Kabupaten Manokwari tersebut.
Bagaimana dengan Kabupaten Tamarau dan Meibrat yang sudah dimekarkan. Apa sudah ada kemajuan?
Dua kabupaten yang sudah dimekarkan itu kan baru satu tahun umurnya. Jadi memang belum maksimal. Tapi apakah dengan dasar itu kita harus moratorium dan ditunda? Kasihlah kesempatan buat Kabupaten Manokwari juga.
Bagaimana dengan infrastruktur di Manokwari Selatan dan Pegunungan Arvak?
Infrastruktur penunjang untuk Manokwari Selatan sudah sangat memadai. Jadi begitu mau masuk pemekaran ibaratnya sudah tidak melahirkan anak bayi lagi. Tetapi tinggal membangun sarana dan prasarana guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar pembangunan di sana bisa dipercepat. Karena sebelumnya penduduk daerah ini berada di pegunungan yang sulit dijangkau karena masih minimnya infrastuktur jalan.
Potensinya sendiri seperti apa?
Untuk Manokwari Selatan, ada tambang yang bisa digali. Untuk pertanian juga ada. Kalau di distrik Ransiki, calon Ibukota Manokwari Selatan itu, sebelumnya ada perkebunan coklat yang sangat luas. Karena itu jika sudah dimekarkan, tinggal meningkatkan potensinya saja. Sedang untuk pegunungan Arvak bisa diandalkan pariwisatanya. Di sana ada danau laki-laki dan danau perempuan. Sedang di bagian atas, ada tambang uranium.
Pemekaran daerah ideal dilakukan di Papua dan Papua Barat, komentar anda?
Memang kalau dari segi geografis sangat diperlukan pemekaran di sana. Tetapi dalam pemekaran kita harus duduk bersama. Antara masyarakat, pemerintah, DPR baik di pusat maupun di daerah. Kita buka kondisi di wilayah. Kita bagi sesuai dengan grand design. Jadi jangan asal mengusulkan saja. Karena alasan pemekaran hanya asal-asalan, saya lihat kurang tepat juga.
Apa harapan anda untuk pemekaran di Kabupaten Manokwari?
Masyarakat harus sejahtera dulu. Kalau sudah sejahtera lahir dan batin, maka pembangunan dapat terus ditingkatkan. Jauh dari konflik-konflik sosial. Keutuhan NKRI pun dapat terus terjaga.
Saya melihat pemekaran kabupaten lain yang sudah berjalan selama lima tahun, hal itu bisa diwujudkan. Jadi pembangunan sarana-prasarana, infrasturktur dan sebagainya, nyatanya juga pesat. Memang, saya pun tak menutup mata akan gagalnya daerah otonom baru, hasil pemekaran. Tetapi hal itu jangan menjadi alasan untuk terus menunda-nunda pemekaran di Kabupaten Manokwari yang telah diusulkan sejak lama.
Dengan menjawab pemekaran di kedua kabupaten tersebut, maka diharapkan kesejahteraan akan lebih bagus, pembangunan bisa ditingkatkan sehingga masyarakat tidak akan menuntut merdeka. Kalaupun mereka menghendaki adanya kemerdekaan, yang saya inginkan merdeka dari kemiskinan dan kebodohan.
Biodata Singkat:
Nama : Irene Manibuy SH
Tempat/Tgl lahir : Teluk Bintuni, 19 Februari 1962
Partai : Golongan Karya
Dapil : Papua Barat
Pendidikan : Sarjana Hukum Universitas Airlangga, Surabaya
Suami : Vincent C. Queipo
Anak : 2 orang
Perolehan Suara : 45.790 (52,7 persen) BPP: 86.964



