• HOME
  • POLITIK
  • HUKUM
  • NARKOBA
  • WAWANCARA
  • EKONOMI
  • PENDAPAT
  • POLITISIANA
  • NUSANTARA
  • VIDEO
WIB
NEWSFLASH
Search
Bookmark and Share
WAWANCARA
Ratna Sari Loppies (Eva/dok)
Artikel Terkait:
  • Sistem Hukum Harus Dipertegas
  • Djunaidi: Tolak Permintaan,Diberhentikan
  • Gunawan: Tergantung Politik Dan Keamanan
  • Nursyahbani: Perjuangan Belum Maksimal
  • Shu Tie : Lokalisasi Judi Banyak Manfaat
2012-05-11 03:59:58 WIB

Ratna Sari Loppies: Terigu Kini Makanan Pokok Setelah Beras

Politikindonesia - Gaya hidup masyarakat Indonesia yang terus berkembang dan berubah, juga memengaruhi pola makan masyarakat, terutama kelas menengah. Hal ini ternyata berdampak pula pada tingkat konsumsi terigu. Konsumsi makanan berbahan dasar tepung terigu di masyarakat kelas menengah naik karena perubahan gaya hidup masyarakat.

Setidaknya, demikian analisa yang disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) Ratna Sari Loppies. Perubahan pola makan masyarakat yang kini lebih banyak mengkonsumsi makanan berbahan dasar terigu telah meningkatkan permintaan tepung terigu dalam negeri.

Itung-itungan Ratna, permintaan tepung terigu dalam negeri pada 2012, kenaikannya bisa mencapai 6 persen jika dibanding tahun lalu. Pada 2011, konsumsi terigu mencapai 4,75 juta ton yang terdiri dari 4,07 juta ton (86 persen) produksi domestik dan 679 ribu ton impor (14 persen).

“Permintaan tepung terigu cenderung naik setiap tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk. Ini dikarenakan terigu sudah menjadi bahan pangan pokok ke dua setelah beras," ujar perempuan wanita kelahiran 19 Juli 1959  ini kepada politikindonesia.com, di Jakarta, Kamis (10/05).

Ibu tiga orang anak ini menilai, saat ini Indonesia sudah menjadi pemasok biskuit ke pasar Asia. Maka tak heran, jika permintaan industri pengolah terigu juga terus meningkat. Sayangnya, kebutuhan yang seharusnya bisa dipenuhi oleh industri terigu di dalam negeri, ternyata dihambat oleh produk impor. “Khususnya dari produk terigu dari Turki yang terindikasi dengan menggunakan harga ekspor lebih murah dibanding dalam negeri," ungkap Ratna.

Dijelaskan Ratna, kenaikan permintaan tepung terigu otomatis akan mendorong peningkatan impor tepung terigu dan bahan bakunya, yakni biji gandum. “Karena sampai sekarang pemenuhan kebutuhan nasional akan jenis tepung tersebut hanya dari industri pengolah biji gandum dan terigu impor," ujarnya.

Kepada Elva Setyaningrum, lulusan ASMI Elnusa ini memaparkan panjang lebar tentang konsumsi terigu dalam negeri. Ia juga berkomentar tentang ancaman produk terigu impor yang berpotensi merusak pasar nasional. Berikut petikannya.

 

Produksi tepung terigu cenderung terus naik, menurut anda, apa alasannya?

Kenaikan produksi tepung terigu tidak terlepas dari meningkatnya konsumsi makanan berbahan dasar terrigu. Peningkatan yang terhadi belakangan ini, didorong oleh naiknya konsumsi mie.

Bukan hanya mie sebenarnya. Masih banyak lagi variasi makanan berbasis terigu yang tingkat konsumsinya meningkat di masyarakat. Misalnya, roti, gorengan, martabak, dan makanan berbasis terigu lainnya. Harga beras yang terus naik juga menyebabkan orang berpaling mengkonsumsi mie instan. Sekedar catatan, harga beras di pasar internasional naik hampir 2 kali lipat dibandingkan harga gandum.

Peningkatan permintaan tepung terigu juga disebabkan oleh pertumbuhan produk hilir terigu dan masuk ke pasar ekspor Asia. Beberapa produsen pangan berbasis terigu telah memusatkan industrinya di Indonesia untuk pasar ekspor.

Berapa produksi tepung terigu dan biji gandum yang dibutuhkan pada tahun 2012?

Berdasarkan data Aptindo, hingga Maret 2012, kapasitas produksi terpasang tepung terigu Indonesia mencapai 7,61 juta ton per tahun atau setara dengan 25.375 ton per hari. Diperkirakan pada tahun ini, pengolahan biji gandum dalam negeri bisa memproduksi 3,6 juta ton tepung terigu.

Sementara itu, untuk mendapatkan tepung terigu sebanyak itu, produsen tepung terigu membutuhkan sekitar 5 juta ton biji gandum yang semuanya harus diimpor, karena belum tersedia di dalam negeri. Setelah pemprosesan biji gandum, hanya tiga perempat bagian yang jadi tepung terigu, seperempatnya jadi pakan ternak.

Bagaimana dengan produk tepung terigu impor yang masuk ke Indonesia? 

Saya sangat menyayangkan banjir impor tepung terigu, terutama dari Turki. Apalagi Turki menambah kapasitas produksi tepung terigunya dari 40 persen menjadi 60 persen. Banyaknya impor tepung terigu akan membuat harganya berpotensi menekan harga terigu dalam negeri. Sementara, harga terigu di Indonesia dalam 4 tahun terakhir stabil. Padahal, sesuai hukum pasar, jika permintaan bertambah seharusnya harga terigu naik.

Berapa perkiraan impor gandum tahun ini?

Impor gandum tahun ini diperkirakan akan bertambah sekitar 200.000 ton jika dibandingkan tahun lalu. Tahun ini  impor gandum berkisar diangka 5 juta ton, sedang  tahun lalu, impor gandum sebanyak 4,8 juta ton. Naiknya impor gandum ini akibat kebutuhan konsumsi gandum tahun ini juga naik.

Dari mana saja Indonesia mengimpor gandum?

Saat ini, Indonesia mengimpor hampir 70 persen gandum dari Australia, Kanada dan Amerika Serikat. Suplai gandum tahun 2012 ini masih tersedia, terutama dari Australia. Diperkirakan, dalam beberapa bulan ke depan tidak ada indikasi harga gandum global meningkat secara dramatis, kecuali karena spekulan harga.

Bagaimana dengan perusahaan produsen tepung terigu di Indonesia?

Pada tahun ini, perusahaan produsen tepung terigu di Indonesia akan bertambah sekitar 5 perusahaan. Jadi akan ada 23 perusahaan yang menekuni bidang produksi gandum. Kehadiran kelima perusahaan tersebut diperkirakan, dalam 2 tahun ke depan, akan meningkatkan kapasitas produksi tepung terigu nasional lebih dari 2 juta ton per tahun. Perusahaan-perusahaan baru yang masuk ke dalam industri tepung terigu nasional di antaranya adalah PT Siantar Top, Wilmar Group dan Toyota Tsusho.

Ada tidak pengaruh gonjang-ganjing BBM subsidi, apakah berpengaruh dengan proses produksi dan harga terigu di pasaran?

Kenaikan BBM sekalipun tidak akan berdampak pada industri terigu. Kita jangan mau disiasati oleh jasa transportasi dengan adanya rencana tersebut. Kenaikkan BBM itu sebenarnya hanya berdampak 10 persen kepada bahan bakarnya. Jadi saya tekankan sekali lagi kenaikkan BBM tidak berdampak pada industri terigu.
(eva/kap)
 
FOLLOW US
             
POLITISIANA
Index >>

Bangunan di Bawah Gunung Padang Telah Terbukti

Hipotesa yang disampaikan Tim Terpadu Riset Mandiri tentang adanya bangunan di bawah situs megalitik...


Plato Tak Bohong, Atlantis Pernah Ada di Indonesia

Plato adalah seorang filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada masa 424 sampai 347 Sebelum Masehi. A...

NUSANTARA
Index >>

Bus Liman Makassar vs Daihatsu Taruna, 2 Tewas

Bus angkutan umum antardaerah, Liman, tabrakan dengan mobil Daihatsu Taruna DD 1444 H di Jalan Sorow...


Pilkada Kediri: 7 Pasangan Calon Telah Mendaftar

Pendaftaran  calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri, Jawa Timur, telah ditutup. Sebanyak 7 pa...
JAJAK PENDAPAT
Inikah Presiden RI 2014 - 2019 Pilihan Anda?
1.Aburizal Bakrie
2.Prabowo Subianto
3.Endriarto Sutarto
4.Dahlan Iskan
5.Gita Wirjawan
6.Sri Mulyani Indrawati



Hasil jajak pendapat


HOME | POLITIK | HUKUM | NARKOBA | WAWANCARA | EKONOMI | PENDAPAT | POLITISIANA | NUSANTARA | VIDEO | REDAKSI

Copyright © 2011 PolitikIndonesia.com All rights reserved