
Andi Arief (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2012-07-05 03:46:37 WIBTim Nasional Riset Gunung Padang Akhirnya Terbentuk
Politikindonesia - Kabar baik terkait kelanjutan penelitian atas bangunan yang terpendam di situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) telah membentuk sebuah tim nasional untuk melanjutkan penelitian situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara itu. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan di situs tersebut akan memiliki skala yang lebih besar dan signifikan.
Kabar itu disampaikan oleh Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief dalam perbincangannya dengan politikindonesia.com, di Jakarta, Rabu malam (04/07). "Alhamdulillah, akhirnya Puslit Arkenas sudah memutuskan untuk membentuk tim nasional untuk riset Gunung Padang."
Kata Andi Arief, tim nasional itu dipimpin arkeolog senior dari Universitas Indonesia Munardjito. "Mudah-mudahan ini awal yang baik. Tim terpadu riset independen menyambut baik inisiatif Puslit Arkenas dan siap bekerja sama," ujar Andi menyambut terbentuknya tim nasional untuk meneliti Gunung Padang itu.
Seperti diketahui, terkuaknya indikasi bangunan yang terpendam di bawah situs Gunung Padang itu berdasarkan temuan dari Tim Riset Bencana Katastropik Purba. Tim yang diinisiasi oleh kantor SKP BSB itu bertujuan untuk menyelidiki pola bencana yang bersifat katasropik (skala massif dan mengubah peradaban) di masa lalu yang terus berulang hingga ke masa kini. Mempelajari pola bencana ini dilakukan untuk memetakan potensi bencana di tanah air dalam rangka mitigasi atau mengurangi kerusakan dan korban akibat bencana.
Salah satu lokasi yang diteliti Tim Bencana Kastastropik Purba adalah Gunung Padang yang tidak begitu jauh dari patahan Cimandiri, Jawa Barat. Peralatan geolistrik yang digunakan Tim Bencana Katastropik Purba merekam anomali geologi di bawah situs megalitikum Gunung Padang.
Anomali itu melahirkan dugaan adanya bangunan yang tertimbun. Juga dibayangkan, bila situs megalitikum Gunung Padang berusia ribuan jiwa maka dapat diperkirakan bahwa bangunan yang tertimbun itu, bila ada, berusia jauh lebih tua dari bebatuan yang tersebar di permukaannya. Dari situlah penelitian terus berlanjut
Pada Februari 2012 lalu, kantor SKP BSB menyerahkan hasil penelitian awal di Gunung Padang itu kepada 3 kementerian, yakni Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Sambil menunggu tim baru yang dibentuk kementerian, kantor SKP BSB menginisiasi sebuah tim terpadu riset mandiri yang terbagi dalam tim arkeologi dan geologi, untuk melanjutkan penelitian di Gunung Padang. Beberapa waktu lalu, tim riset mandiri ini melakukan eskavasi terbatas pada sisi timur situs Gunung Padang.
Hasilnya, dugaan mengenai bangunan yang tertimbun di bawah situs megalitikum Gunung Padang semakin kuat. Tim ini juga telah merilis sketsa rekaan bentuk bangunan tersebut. Sepintas, bangunan itu memiliki kemiripan dengan beberapa piramida kuno di kawasan Amerika Latin.
Piramida Gunung Padang ini diperkirakan memiliki 100 undakan dan terbentang di kawasan seluar 75 hektar. Jauh lebih luas dari kawasan Candi Borobudur di Jawa Tengah yang hanya 1,5 hektar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kontruksi bangunan itu tidaklah sesederhana yang diduga selama ini. Konstruksi dan arsitektur bangunan itu menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan terbilang sudah sangat maju pada era tersebut.
Kata Andi Arief, dengan terbentuknya Tim Nasional Riset Gunung Padang, Kantor SKP BSB siap untuk bekerja sama. Ia menambahkan bahwa tim independen yang telah terbentuk tidak akan dibubarkan. Tim itu diharapkan melakukan riset lanjutan di berbagai tempat yang juga diduga memiliki fenomena serupa dan memiliki kaitan dengan kejadian bencana di masa lalu seperti Gunung Sadahurip di Garut, Bukit Dago Pakar, Trowulan di Jawa Timur, dan Batu Jaya di Bekasi, Jawa Barat.
(kap/rin/nis)



