
Susilo Bambang Yudhoyono (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2010-07-30 23:54:21Bukan Eranya Lagi, Dikotomi Sipil-Militer
Politikindonesia - Tinggalkanlah pemikiran yang mendikotomi sipil dan militer. Sekarang sudah bukan eranya lagi. Para pemimpin sipil dan militer mempunyai tanggung jawab terhadap negara sesuai porsi masing-masing. Maka tidak perlu lagi ada dikotomi status dan perlakuan di antara keduanya.
Pesan itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di hadapan peserta The Future Defense Leaders Workshop 2010. Acara berlangsung di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Jumat (30/07). "Eranya sudah tiba, tidak perlu ada dikotomi di antara sipil dan militer, semua mengemban tugas negara," ucap Presiden.
Kepala Negara menyebut, di era-era terdahulu, memang ada semacam dikotomi antara pemimpin militer dan sipil. Bahkan, dikotomi yang serupa, juga ada di antara mahasiswa di perguruan tinggi dengan taruna militer.
Akan tetapi, seiring bergulirnya program reformasi dan perubahan doktrin di tubuh TNI, situasi yang ada sekarang sudah sangat berubah. Perubahan yang paling fundamental terjadi setelah TNI menegaskan, untuk tidak terlibat dalam politik praktis seperti era sebelumnya. “Dengan perubahan doktrin TNI tidak terlibat politik praktis, tidak ada lagi jarak antara sipil dan militer.”
Acara The Future Defense Leaders Workshop 2010 ini, digelar oleh Kementerian Pertahanan. Tujuan pelatihan selama enam hari itu adalah menyiapkan calon kader pemimpin TNI dan sipil yang kelak ditugaskan mengikuti seminar pertahanan Internasional lalu menyebarluaskannya di Indonesia.
(zel/yk) Pesan itu disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di hadapan peserta The Future Defense Leaders Workshop 2010. Acara berlangsung di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Jumat (30/07). "Eranya sudah tiba, tidak perlu ada dikotomi di antara sipil dan militer, semua mengemban tugas negara," ucap Presiden.
Kepala Negara menyebut, di era-era terdahulu, memang ada semacam dikotomi antara pemimpin militer dan sipil. Bahkan, dikotomi yang serupa, juga ada di antara mahasiswa di perguruan tinggi dengan taruna militer.
Akan tetapi, seiring bergulirnya program reformasi dan perubahan doktrin di tubuh TNI, situasi yang ada sekarang sudah sangat berubah. Perubahan yang paling fundamental terjadi setelah TNI menegaskan, untuk tidak terlibat dalam politik praktis seperti era sebelumnya. “Dengan perubahan doktrin TNI tidak terlibat politik praktis, tidak ada lagi jarak antara sipil dan militer.”
Acara The Future Defense Leaders Workshop 2010 ini, digelar oleh Kementerian Pertahanan. Tujuan pelatihan selama enam hari itu adalah menyiapkan calon kader pemimpin TNI dan sipil yang kelak ditugaskan mengikuti seminar pertahanan Internasional lalu menyebarluaskannya di Indonesia.



