• HOME
  • POLITIK
  • HUKUM
  • NARKOBA
  • WAWANCARA
  • EKONOMI
  • PENDAPAT
  • POLITISIANA
  • NUSANTARA
  • VIDEO
WIB
NEWSFLASH
Search
Bookmark and Share
PENDAPAT
Bahtiar Effendy (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
  • Ditendang Akbar, Muchyar Yara Melawan
  • Dirjen Pajak: Perlu Dukungan Semua Pihak
  • Ada Apa Dengan Indonesia Timur?
  • Dialog Dengan RMS, Sama Saja Hidupkan Orang Mati
  • Tak Serupiahpun Baju Saya Dari Uang Negara
2012-05-25 06:37:37 WIB

Tak Akan Ada Alih Generasi di 2014

Politikindonesia - Pada pelaksanaan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014 mendatang, partai peserta Pilpres, diyakini tidak akan memunculkan sosok muda atau regenerasi kepemimpinan. Kejadian saat reformasi pada tahun 1998 akan kembali berulang. Reformasi yang disuarakan kaum muda, sementara pemimpin yang muncul berasal dari kalangan tua.

Begitulah pendapat Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Bahtiar Effendy dalam diskusi "Regenerasi dan Estafet Kepemimpinan Nasional" di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (25/05).

Bahtiar menilai, sebenarnya perdebatan regenerasi kepemimpinan di Pilpres mendatang sangatlah tidak tepat. Baginya, calon presiden (capres) yang berusia muda atau tua sama saja. "Saya tidak tahu yang diperlukan sekarang ini. Apakah capres generasi muda atau generasi tua? Tapi saya kira tidak akan ada generasi baru pada Pilpres 2014. Alih  generasi, mungkin baru akan terjadi pada 2020," ujarnya.

Menurutnya, tokoh nasional yang berusia tua saja masih bisa tergelincir. Padahal, mereka sudah mempunyai investasi, pengalaman, dan kematangan. Begitu juga sebaliknya dengan tokoh muda yang investasinya belum cukup banyak dan pengalamannya pun belum begitu dalam, dikhawatirkan malah mengulangi kesalahan seniornya.

"Yang tua dan punya modal saja masih bisa melakukan kesalahan, apalagi yang muda-muda. Prinsip ketidaksabaran, ketidakmatangan, ketergesa-gesaan inilah yang saat ini melekat pada generasi muda dalam 14 tahun terakhir ini," ungkap Bahtiar.

Bahtiar juga mengkritisi tren kepemimpinan politik yang terjadi belakangan. Pemimpin daerah banyak yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan nasional. Karena, baru memimpin daerah 5-7 tahun sudah buru-buru ke Jakarta. "Padahal saya pernah memprediksi sistem pemilihan kepala daerah secara langsung dulu itu akan banyak muncul calon pemimpin negara berusia muda. Tapi nyatanya, hal itu tidak terjadi karena ketidaksabaran untuk mematangkan diri," paparnya.

Kata Bahtiar, yang diperlukan oleh Indonesia saat ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh memperlakukan jabatan sebagai amanah dan tidak memperlakukan jabatan jadi komoditi sebagai pekerjaan. "Jadi, bukan soal alih generasi, tapi orang-orang yang punya komitmen," imbuhnya.
(eva/rin/kap)
 
FOLLOW US
             
POLITISIANA
Index >>

Bangunan di Bawah Gunung Padang Telah Terbukti

Hipotesa yang disampaikan Tim Terpadu Riset Mandiri tentang adanya bangunan di bawah situs megalitik...


Plato Tak Bohong, Atlantis Pernah Ada di Indonesia

Plato adalah seorang filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada masa 424 sampai 347 Sebelum Masehi. A...

NUSANTARA
Index >>

Pilkada Kediri: 7 Pasangan Calon Telah Mendaftar

Pendaftaran  calon Walikota dan Wakil Walikota Kediri, Jawa Timur, telah ditutup. Sebanyak 7 pa...


Pilgub Lampung: KPUD Mulai Lakukan Sosialisasi

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Lampung mulai melakukan sosialisasi tahapan pemilihan gubernur (...
JAJAK PENDAPAT
Inikah Presiden RI 2014 - 2019 Pilihan Anda?
1.Aburizal Bakrie
2.Prabowo Subianto
3.Endriarto Sutarto
4.Dahlan Iskan
5.Gita Wirjawan
6.Sri Mulyani Indrawati



Hasil jajak pendapat


HOME | POLITIK | HUKUM | NARKOBA | WAWANCARA | EKONOMI | PENDAPAT | POLITISIANA | NUSANTARA | VIDEO | REDAKSI

Copyright © 2011 PolitikIndonesia.com All rights reserved