
Industri tekstil (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2010-06-23 04:20:44 WIBPemerintah Dikritik Tak Berpihak ke Industri Tekstil
Politikindonesia - Pelaku industri pertekstilan mengkritik pemerintah. Mereka menganggap kebijakan pemerintah tidak pernah berpihak kepada pengusaha di bidang yang menyerap banyak tenaga kerja itu. Karena itulah, tekstil dan produk tekstil kita tak bisa bersaing dengan negara lain.
Jaddin Jamaluddin, ketua Asosiasi Pertekstilan Daerah Istimewa Yogyakarta mengemukakan hal tersebut, kepada pers di Jakarta, Rabu (23/03).
Jaddin membandingkan perlakukan pemerintah China terhadap para pelaku industri, terutama yang menyerap banyak tenaga kerja. Di negeri tirai bambu itu, pemerintah memberikan berbagai kemudahan bagi para pelaku industri. Di antaranya, tarif listrik lebih rendah dari tarif listrik rumah tangga. Juga suku bunga pinjaman bank yang sangat rendah.
Kalau dibandingkan dengan perlakuan terhadap para pengusaha di Tanah Air, Jaddin cukup masygul. Soalnya, kata dia, pemerintah kita justru menerapkan tarif serba tinggi kepada pelaku indutri. Karena itu, industri tekstil kita sukar bersaing dengan pelaku industri luar.
Padahal, jika ada dukungan riil dari pemerintah, Jaddin berkeyakinan industri kita bisa bersaing. Bahkan dengan produk-produk tekstil dari Asia, termasuk China, bukan hal berat untuk dikalahkan.
Kenaikan TDL
Jaddin Jamaluddin menunjuk rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 1 Juli 2010, yang bisa menjadi batu sandungan tersendiri bagi perkembangan industri kita. Ia mengkhawatirkan hal tersebut akan berdampak pada menurunnya pendapatan industri pertekstilan. Bahayanya lagi, kalau faktor itu berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) tenaga kerja atau buruh.
Kalau sampai kenaikan biaya produksi, akibat naiknya TDL menyebabkan perusahaan gulung tikar. Jaddin bisa membayangkan banyaknya buruh yang bakal di PHK. Itu artinya, daftar pengangguran di Yogya akan semakin meningkat karenanya.
Sejauh ini, sektor tekstil merupakan penyumbang devisa terbesar setelah ekspor nonmigas yang mencapai US$10 miliar dan pertumbuhannya relatif bagus. Namun, dengan kebijakan yang semakin memojokkan pelaku industri pertekstilan, Jaddin memastikan banjir produk tekstil dari China akan semakin memenuhi pusat-pusat perbelanjaan di Tanah Air.
Hal tersebut ditopang dengan kondisi Amerika Serikat yang sedang resesi, sehingga Indonesia merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Jaddin menuding kondisi buruk itu akibat salah pemerintah dalam melindungi dunia usaha dalam negeri. Ia berterus-terang mengatakan, kebijakan pemerintah hanya manis di dunia internasional, tetapi pahit bagi pelaku industri dalam negeri, khususnya sektor industri tekstil.
Ketua Kelompok Koperasi Pengrajin Joho (Koprincho), Kabupaten Sleman, Amar Abdullah juga memastikan betapa besar dampak dari kenaikan TDL nanti. Ia menyebutkan, para pelaku usaha di bawah asuhannya akan mengalami penurunan pendapatan akibat kenaikan TDL itu.
Soalnya, saat ini saja, marjin keuntungannya pengrajin dari kelompok Kopricho, mencapai 20 persen dari produksi. Jika TDL naik, dipastikan akan turun menjadi 10 persen. Untuk itu, saya tekankan para pelaku untuk bisa mengantisipasi keadaan jika TDL benar-benar dinaikkan awal Juli mendatang.
(mun/na) Jaddin Jamaluddin, ketua Asosiasi Pertekstilan Daerah Istimewa Yogyakarta mengemukakan hal tersebut, kepada pers di Jakarta, Rabu (23/03).
Jaddin membandingkan perlakukan pemerintah China terhadap para pelaku industri, terutama yang menyerap banyak tenaga kerja. Di negeri tirai bambu itu, pemerintah memberikan berbagai kemudahan bagi para pelaku industri. Di antaranya, tarif listrik lebih rendah dari tarif listrik rumah tangga. Juga suku bunga pinjaman bank yang sangat rendah.
Kalau dibandingkan dengan perlakuan terhadap para pengusaha di Tanah Air, Jaddin cukup masygul. Soalnya, kata dia, pemerintah kita justru menerapkan tarif serba tinggi kepada pelaku indutri. Karena itu, industri tekstil kita sukar bersaing dengan pelaku industri luar.
Padahal, jika ada dukungan riil dari pemerintah, Jaddin berkeyakinan industri kita bisa bersaing. Bahkan dengan produk-produk tekstil dari Asia, termasuk China, bukan hal berat untuk dikalahkan.
Kenaikan TDL
Jaddin Jamaluddin menunjuk rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 1 Juli 2010, yang bisa menjadi batu sandungan tersendiri bagi perkembangan industri kita. Ia mengkhawatirkan hal tersebut akan berdampak pada menurunnya pendapatan industri pertekstilan. Bahayanya lagi, kalau faktor itu berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) tenaga kerja atau buruh.
Kalau sampai kenaikan biaya produksi, akibat naiknya TDL menyebabkan perusahaan gulung tikar. Jaddin bisa membayangkan banyaknya buruh yang bakal di PHK. Itu artinya, daftar pengangguran di Yogya akan semakin meningkat karenanya.
Sejauh ini, sektor tekstil merupakan penyumbang devisa terbesar setelah ekspor nonmigas yang mencapai US$10 miliar dan pertumbuhannya relatif bagus. Namun, dengan kebijakan yang semakin memojokkan pelaku industri pertekstilan, Jaddin memastikan banjir produk tekstil dari China akan semakin memenuhi pusat-pusat perbelanjaan di Tanah Air.
Hal tersebut ditopang dengan kondisi Amerika Serikat yang sedang resesi, sehingga Indonesia merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Jaddin menuding kondisi buruk itu akibat salah pemerintah dalam melindungi dunia usaha dalam negeri. Ia berterus-terang mengatakan, kebijakan pemerintah hanya manis di dunia internasional, tetapi pahit bagi pelaku industri dalam negeri, khususnya sektor industri tekstil.
Ketua Kelompok Koperasi Pengrajin Joho (Koprincho), Kabupaten Sleman, Amar Abdullah juga memastikan betapa besar dampak dari kenaikan TDL nanti. Ia menyebutkan, para pelaku usaha di bawah asuhannya akan mengalami penurunan pendapatan akibat kenaikan TDL itu.
Soalnya, saat ini saja, marjin keuntungannya pengrajin dari kelompok Kopricho, mencapai 20 persen dari produksi. Jika TDL naik, dipastikan akan turun menjadi 10 persen. Untuk itu, saya tekankan para pelaku untuk bisa mengantisipasi keadaan jika TDL benar-benar dinaikkan awal Juli mendatang.



