
Mahendra Siregar (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2010-11-03 21:53:06 WIBRp18 Triliun, Investasi China Ditarik ke Indonesia
Politikindonesia - World Expo di Shanghai 2010, berbuah manis bagi investasi China di Indonesia. Betapa tidak, hanya berbekal US$20 juta untuk stand pameran, Indonesia bisa menarik investasi dari China senilai US$2 miliar atau setara Rp18 triliun.
Mahendra Siregar Wakil Menteri Perdagangan di Kementerian Keuangan, Rabu (03/11) mengatakan, kesepakatan investasi yang langsung disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu meliputi infrastruktur, perdagangan, pertambangan, pertanian, pangan, perikanan, industri kreatif, dan lainnya.
Menurutnya, kondisi Ini sangat menguntungkan karena bukan hanya pengusaha besar, tapi UKM (usaha kecil dan menengah) juga memperoleh kontrak ekspor dalam jumlah besar.
Mahendra menyontohkan pengusaha kecil pengekspor arang dari batok kelapa. “Meski terdengar sepele, tapi arang dari batok kelapa itu sangat dibutuhkan pengusaha China,” ujarnya.
Pengusaha itu katanya, kini kebanjiran pesanan. Sehingga harus memperluas usahanya dengan merekrut pengusaha-pengusaha lain.
Mahendra menjelaskan, masyarakat Indonesia jangan melihat anggaran yang dihabiskan Kementerian Perdagangan sebagai suatu pemborosan. Sebab apa yang diusahakan pemerintah kini telah membuahkan hasil yang maksimal.
"Besar atau kecil imbal hasilnya tidak bisa dilihat dari nilai investasi dan perdagangan. Tapi, bagaimana dengan cost yang efektif dan efisien bisa memperoleh hasil maksimal," kata Mahendra.
Sebelumnya pada World Expo 2010 di Shanghai, China Indonesia hanya memperoleh penghargaan perunggu untuk tampilan kreatif kategori 'Paviliun Besar yang Dibangun Sendiri (Large Self-Built Pavillion). Indonesia kalah dari Arab Saudi yang menyabet emas dan Jepang perak.
Sebagai perbandingan, Arab Saudi membangun paviliun besar dengan luas 6.000 meter persegi dengan menghabiskan dana US$380 juta. Sementara itu, paviliun Jepang berdiri di atas tanah seluas 6.000 meter persegi dan menghabiskan dana US$140 juta.
"Indonesia hanya menghabiskan US$20 juta dengan luas 2.400 meter,” ujarnya. Meski demikian, Mahendra tak bermaksud membandingkan dengan paviliun dan stand-stand negara lain. Namun menurutnya, keberhasilan Indonesia menarik investasi US$2 miliar adalah upaya pemerintah Indonesia yang cukup aktif.
(sa/bhm/yk) Mahendra Siregar Wakil Menteri Perdagangan di Kementerian Keuangan, Rabu (03/11) mengatakan, kesepakatan investasi yang langsung disaksikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu meliputi infrastruktur, perdagangan, pertambangan, pertanian, pangan, perikanan, industri kreatif, dan lainnya.
Menurutnya, kondisi Ini sangat menguntungkan karena bukan hanya pengusaha besar, tapi UKM (usaha kecil dan menengah) juga memperoleh kontrak ekspor dalam jumlah besar.
Mahendra menyontohkan pengusaha kecil pengekspor arang dari batok kelapa. “Meski terdengar sepele, tapi arang dari batok kelapa itu sangat dibutuhkan pengusaha China,” ujarnya.
Pengusaha itu katanya, kini kebanjiran pesanan. Sehingga harus memperluas usahanya dengan merekrut pengusaha-pengusaha lain.
Mahendra menjelaskan, masyarakat Indonesia jangan melihat anggaran yang dihabiskan Kementerian Perdagangan sebagai suatu pemborosan. Sebab apa yang diusahakan pemerintah kini telah membuahkan hasil yang maksimal.
"Besar atau kecil imbal hasilnya tidak bisa dilihat dari nilai investasi dan perdagangan. Tapi, bagaimana dengan cost yang efektif dan efisien bisa memperoleh hasil maksimal," kata Mahendra.
Sebelumnya pada World Expo 2010 di Shanghai, China Indonesia hanya memperoleh penghargaan perunggu untuk tampilan kreatif kategori 'Paviliun Besar yang Dibangun Sendiri (Large Self-Built Pavillion). Indonesia kalah dari Arab Saudi yang menyabet emas dan Jepang perak.
Sebagai perbandingan, Arab Saudi membangun paviliun besar dengan luas 6.000 meter persegi dengan menghabiskan dana US$380 juta. Sementara itu, paviliun Jepang berdiri di atas tanah seluas 6.000 meter persegi dan menghabiskan dana US$140 juta.
"Indonesia hanya menghabiskan US$20 juta dengan luas 2.400 meter,” ujarnya. Meski demikian, Mahendra tak bermaksud membandingkan dengan paviliun dan stand-stand negara lain. Namun menurutnya, keberhasilan Indonesia menarik investasi US$2 miliar adalah upaya pemerintah Indonesia yang cukup aktif.



