
Achsanul Qosasih (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2010-11-02 06:42:09 WIBHarga Saham Murah, DPR Panggil PT KS
Politikindonesia - Kontroversi harga saham PT Krakatau Steel mengundang perhatian Komisi XI DPR. Mereka akan memanggil manajemen PT KS terkait kontroversi rendahnya harga saham BUMN itu, seperti tercantum dalam penawaran saham perdana, 2-4 November 2010.
"Jika menimbulkan kebingungan masyarakat, Komisi XI berkewajiban memanggil manajemen PT KS, karena Komisi XI turut memberikan persetujuan dalam proses tersebut," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR Achsanul Qosasi di Jakarta, Selasa (02/11).
Menurut Achsanul, sebagai salah satu BUMN yang diandalkan Pemerintah, KS telah menetapkan harga terlalu murah, Rp850 per lembar. Anggota Fraksi Partai Demokrat itu mengungkapkan, BNI dan Mandiri saja melepas saham, Rp2.000-Rp3.000 per lembar.
Dengan harga murah, kata Achsanul, akan muncul pembeli spekulan yang dengan mudah memainkan saham tersebut. "Seharusnya pemerintah bisa mendapat lebih dari nilai yang ditawarkan itu."
Achsanul mengatakan, proses penawaran saham perdana KS yang lebih dari satu tahun juga harus dijelaskan manajemen KS. Persetujuan Komisi XI diberikan sejak 2009. Pencatatan dan perdagangan perdana saham KS di Bursa Efek Indonesia, 10 November 2010.
KS, perusahaan blue chip yang pasti diminati investor lokal dan asing. Buktinya, banyak yang mencari dan mengambil porsi besar, sehingga Pemerintah kehilangan kesempatan mendapatkan dana maksimal dari IPO tersebut.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan penjamin pelaksana emisi, memastikan penawaran umum perdana saham PT Krakatau Steel berjalan sesuai rencana. Tidak ada perubahan jadwal pelaksanaan penawaran umum, alokasi saham, dan harga perdana senilai Rp850.
Tidak ada perubahan alokasi saham perdana PT KS. Dari 3,15 miliar saham atau 20 persen saham PT KS yang akan dilepas ke publik, sebanyak 65 persen dialokasikan ke investor domestik. Sisanya kepada investor asing. Dari jumlah itu, 80 persen ke investor institusi dan 20 persen ke investor ritel atau perorangan.
Sejumlah pengamat ekonomi dan pasar modal serta para pelaku pasar saham dalam negeri menyatakan, harga saham perdana PT KS Rp850 terlalu murah. Itu mendekati batas bawah harga indikatif yang ditetapkan, antara Rp800 dan Rp1.150 per saham.
Padahal, pada masa penawaran awal (book building), permintaan membeludak hingga 9 kali dari jumlah saham PT KS yang akan dilepas. Pengamat dan pelaku pasar menyatakan, harga ideal saham PT KS seharusnya minimal Rp1.000.
(mun/na) "Jika menimbulkan kebingungan masyarakat, Komisi XI berkewajiban memanggil manajemen PT KS, karena Komisi XI turut memberikan persetujuan dalam proses tersebut," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR Achsanul Qosasi di Jakarta, Selasa (02/11).
Menurut Achsanul, sebagai salah satu BUMN yang diandalkan Pemerintah, KS telah menetapkan harga terlalu murah, Rp850 per lembar. Anggota Fraksi Partai Demokrat itu mengungkapkan, BNI dan Mandiri saja melepas saham, Rp2.000-Rp3.000 per lembar.
Dengan harga murah, kata Achsanul, akan muncul pembeli spekulan yang dengan mudah memainkan saham tersebut. "Seharusnya pemerintah bisa mendapat lebih dari nilai yang ditawarkan itu."
Achsanul mengatakan, proses penawaran saham perdana KS yang lebih dari satu tahun juga harus dijelaskan manajemen KS. Persetujuan Komisi XI diberikan sejak 2009. Pencatatan dan perdagangan perdana saham KS di Bursa Efek Indonesia, 10 November 2010.
KS, perusahaan blue chip yang pasti diminati investor lokal dan asing. Buktinya, banyak yang mencari dan mengambil porsi besar, sehingga Pemerintah kehilangan kesempatan mendapatkan dana maksimal dari IPO tersebut.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan penjamin pelaksana emisi, memastikan penawaran umum perdana saham PT Krakatau Steel berjalan sesuai rencana. Tidak ada perubahan jadwal pelaksanaan penawaran umum, alokasi saham, dan harga perdana senilai Rp850.
Tidak ada perubahan alokasi saham perdana PT KS. Dari 3,15 miliar saham atau 20 persen saham PT KS yang akan dilepas ke publik, sebanyak 65 persen dialokasikan ke investor domestik. Sisanya kepada investor asing. Dari jumlah itu, 80 persen ke investor institusi dan 20 persen ke investor ritel atau perorangan.
Sejumlah pengamat ekonomi dan pasar modal serta para pelaku pasar saham dalam negeri menyatakan, harga saham perdana PT KS Rp850 terlalu murah. Itu mendekati batas bawah harga indikatif yang ditetapkan, antara Rp800 dan Rp1.150 per saham.
Padahal, pada masa penawaran awal (book building), permintaan membeludak hingga 9 kali dari jumlah saham PT KS yang akan dilepas. Pengamat dan pelaku pasar menyatakan, harga ideal saham PT KS seharusnya minimal Rp1.000.



